Posted by: santalidwina | April 17, 2009

Tumbuhnya Umat Katolik di Nusupan

Sebelum tahun 1960 di Nusupan dan Bedog sudah ada pelajaran agama yang diasuh oleh Bapak Martonarpodo. Beberapa katekis lain yang memberi pelajaran agama di Nusupan adalah Pak RI. Suwarjo (namanya terkenal di buku Kidung Adi), Pak Dul Muin, Pak Hadi Supadmo dan Pak Antonius Suripto. Bapak Martonarpodo meninggal dunia tahun 1973, ketika Bedog dan Nusupan masih bergabung dalam kring Kentheng.

Pelajaran agama yang dilakukan tahun 1963 diikuti tujuh orang tetapi yang bisa sampai menerima baptisan hanya satu orang yaitu Pak Sukardiyono. Pada tahun 1964 pelajaran agama terus berlanjut, diikuti oleh 12 orang tetapi semuanya bubar alias tidak sampai menerima baptisan. Pada tahun 1965, khususnya setelah G30S/PKI ada ketentuan bahwa setiap orang harus beragama.

Konon generasi awal orang Katolik di Nusupan adalah Ibu Wurandini, Pak Suhartono, Pak Ign. Suradi, Pak Slamet Haryo dan Pak Supriyo Hartono. Ibu Wurandini adalah pegawai Stella Duce dan tinggal di asrama, kemudian dibaptis di sana. Ibu Wurandini adalah saudara dari Pak Suparmo, keduanya adalah putra dari Pak Sastro Pranoto.

Pada masa lalu ada kebiasaan unik yang dilakukan umat Nusupan dan Bedog yaitu acara sembahyangan dan pendalaman iman dilakukan dengan cara pindah-pindah bergiliran tempat. Umat dari Nusupan atau Bedog sudah terbiasa hadir dalam sembahyangan dan pendalaman iman di tempat lain, misalnya di Kentheng atau Bener. Demikian pula sebaliknya, umat dari Kentheng dan Bener juga telah biasa hadir dalam pertemuan di Nusupan dan Bedog. Pemimpin sembahyangan dan pendalaman iman kerap dipegang oleh Pak Sosro Sumarto, dan pernah juga di hadiri oleh Pak Dirjo Suprobo (Kumetiran) dan Pak Martodiningrat (Kuncen).

Pertumbuhan iman Katolik di Nusupan berlangsung melalui peristiwa – peristiwa unik. Pada waktu umat Katolik masih sedikit, di Nusupan ada aliran kejawen yang merasuk dalam kehidupan warga Nusupan dengan tokoh-tokoh yang tinggal di Bedog (Pak Hardomirudo) dan Biru (Pak Sastro). Pak Ign. Suradi dan warga Nusupan kemudian mendirikan paguyuban “Budi Luhur” untuk mewadahi aspirasi warga yang senang jagongan sambil mendalami ajaran Kejawen.

Pada waktu itu warga Nusupan memiliki kebiasaan, setiap ada hajatan (Bayen dll) selalu mengadakan acara ngudar wucalan dari aliran Kejawen. Jika aliran Kejawen ngudar wucalan, Pak Ign. Suradi memanfaatkan momen yang sama untuk mendongeng atau berceritera. Ternyata dongeng dan ceritera yang disampaikan tersebut memuaskan dan menarik minat warga Nusupan, ee kok apik ya. Akhirnya sedikit demi sedikit warga Nusupan mulai menerima baptisan. Konon dongeng yang paling digemari adalah tentang Babat Yusuf.

Daya tarik yang lain adalah layanan doa yang diberikan Pak Ign. Suradi kepada warga Nusupan. Sering kali warga Nusupan yang sakit atau sulit meninggal dunia meminta pertolongan kepada Pak Ign. Suradi untuk di doakan. Permintaannya adalah kesembuhan atau meninggal dunia dengan tenang. Ajaib, setiap kali doa dan permohonan kesembuhan lewat Pak Ign. Suradi mampu memberikan kelegaan kepada pasien dan keluarganya. Peristiwa ajaib ini sudah berlangsung cukup lama. Hingga sekarang Pak Ign. Suradi masih dikenal dan terkenal sebagai orang Katolik dari Nusupan yang manjur doanya, bahkan akhir-akhir ini umat Katolik dari perumahan juga ada yang pernah meminta tolong kepada beliau.

(Sumber: diskusi kelompok di rumah Bapak Soekatno, 7 April 2009)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.