Posted by: santalidwina | June 7, 2009

Romo Notobudyo tentang Allah Tritunggal Mahakudus

Teks

(Sumber: sampul Teks Misa Kudus)

Sabtu sore tanggal 6 Juni 2009 aku mengikuti Misa Kudus di gereja Santa Lidwina stasi Bedog. Aku senang karena sore hari itu Misa Kudus dipimpin oleh Romo Notobudyo. Aku dan istriku senang setiap mendengarkan homili Romo Notobudyo karena selalu berbobot dan memberi arah yang jelas tentang banyak hal yang sangat penting dalam iman Katolik. Rasanya sudah lama Romo Noto tidak memimpin Misa Kudus di Bedog, atau mungkin sudah beberapa kali tetapi kebetulan saja aku ke gereja lain. Sore itu aku merasa berjumpa dengan Romo Noto yang sudah lama sekali tidak aku dengarkan homilinya di gereja Santa Lidwina.

Romo Noto membuka homili dengan menyitir tulisan dari bacaan pertama yang diambil dari Kitab Ulangan (Ul 4:32. 39-40), khususnya bagian yang tertulis begini ”Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain”. Romo Noto menyatakan bahwa isi dari kutipan itu adalah sebuah pernyataan iman yang mengatakan bahwa Allah kita satu (dalam bahasa Arab: laa ilaa ha illallah). Beliau menambahkan bahwa pernyataan itu disampaikan Tuhan kepada Musa seribu tahun sebelum kelahiran Yesus. Kejadian ini jelas sebab bacaan pertama menyatakan bahwa Tuhan sedang bersabda kepada Musa. Jadi sudah sejak tiga ribu tahun yang lalu keyakinan ”Tuhan kita satu” ini ada di muka bumi yang lahir di kalangan bangsa Yahudi dan akhirnya sampai kepada kita.

Pernyataan Romo Noto tentang salah satu sendi keyakinan Katolik ini sungguh menyentuh hatiku, sebab selama bertahun-tahun aku hidup sebagai orang Katolik baru hari ini aku tahu bahwa rahasia iman kita yang satu ini sudah ada sejak tiga ribu tahun yang lalu. Sudah beberapa kali aku mengikuti Misa Kudus yang merayakan Tritunggal Mahakudus tetapi baru kali ini rahasia itu diungkapkan dengan jelas sekali. Terus terang hatiku sangat bahagia sebab tahu rahasia ini dengan sangat jelas dan mantap. Rahasia iman ini semakin jelas ketika Romo Noto melanjutkan homili yang mengkaitkannya dengan kehadiran Yesus.

Romo Noto menjelaskan bahwa rahasia iman ”Tuhan kita Satu” dari Kitab Ulangan tersebut adalah Tuhan menyatakan sendiri kepada Musa. Keyakinan tersebut telah lama hidup di kalangan bangsa Yahudi. Selanjutnya, Yesus melalui kehadiranNya mengajarkan bahwa Tuhan yang satu itu hakekatnya memiliki tiga pribadi. Aku jadi mudeng sekarang bahwa sejak dua ribu tahun yang lalu sudah dijelaskan Yesus bahwa Tuhan yang hakekatnya satu itu memiliki tiga pribadi yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Rumusan dari Romo Noto yang sangat menarik dan mengesan di dalam hatiku adalah bahwa Roh Kudus adalah Roh dari Allah Bapa dan Allah Putra.

Romo Noto juga menjelaskan bahwa Tritunggal Mahakudus itu ada sejak awal mula dan sepanjang segala abad. Pandangan yang memenggal-menggal perjanjian lama adalah era Allah Bapa, perjanjian baru adalah era Allah Putra dan sekarang adalah era Allah Roh Kudus adalah sangat salah menurut iman Katolik. Romo dengan mantap menjelaskan bagaimana Allah Tritunggal Mahakudus ada di setiap jaman secara bersama-sama dan utuh dalam kerjasama ilahi yang melampaui akal manusia. Aku jadi mudeng bagaimana rahasia iman tentang Allah Tritunggal Mahakudus yang memang hanya bisa dipahami dengan kacamata iman. Romo Awan selalu bilang bahwa rahasia semacam itu tidak mampu dinalar oleh manusia sebab ”melampaui akal atau bahkan diatas akal”. Sore hari itu aku bersyukur, Romo Noto memberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana tentang rahasia iman Katolik yang amat rahasia ini. Matur nuwun nggih Romo Noto.

Romo juga menjelaskan bahwa masih ada tradisi di Italia dan beberapa negara Eropa bahwa ketika orang mengucapkan atau melagukan kalimat ”Kemuliaan kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad, amin” dilakukan sambil menundukkan badan dengan penuh hormat ke arah Salib Yesus. Nah aku jadi makin mudeng, sebab tradisi ini masih berlangsung di biara Rowoseneng dan biara putri di lereng Merbabu. Ooh begitu ta, memang ketika melakukan rasanya ya lain kok, sangat menyentuh hati !

Penjelasan Romo Noto berlanjut tentang bagaimana membuat tanda salib yang benar, sebab tanda salib merupakan identitas orang Katolik. Menurut tradisi lama orang membuat tanda salib dengan tiga jari yang disatukan yaitu jempol, telunjuk dan jari tengah. Ketiga jari yang disatukan ini melambangkan Allah Tritunggal Mahakudus. Kemudian, titik yang disentuh ketika membuat tanda salib adalah bagian tengah dahi, pusar dan lengan kiri dan kanan. Waah ternyata puser yang disentuh bukan tengah dada. Romo menjelaskan bahwa artinya ayunan tiga jari tadi jauh-jauh, yaitu dari dahi ke pusar kemudian ke bahu kiri dan kanan, maka melambangkan bahwa Allah Tritunggal Mahakudus ingin memeluk seluruh realitas kehidupan. Oleh karenanya, bikin tanda salib yang tergesa-gesa ayunan tangannya sambil bergumam ”baputdusmin” hakekatnya melecehkan Allah Tritunggal Mahakudus. Kata Romo Noto, ketahuilah bahwa bikin tanda salib adalah menghormati Allah Tritunggal Mahakudus dan jika dilakukan dengan benar maka sang pelaku mendapat berkah dan rahmat Tuhan.

Romo Noto menjelaskan lebih jauh bahwa ketika membuat tanda salib perkataan kita bukan dengan awalan ”Atas nama Bapa….” melainkan yang benar adalah dengan awalan ”Dalam nama Bapa….” Hal ini sejalan dengan tradisi bahwa dimana-mana awalannya selalu dengan kata ”in” misalnya ”In the name of the Father…”. Menurut Romo Noto, yang paling tepat adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu “Konjuk ing Asmo Dalem Hyang Romo….”, sebagai padanan ungkapan “in” tadi. Artinya dalam tradisi Jawa orang selalu melakukan apapun dengan sikap batin bahwa semuanya hanya dihunjukkan kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Tampaknya sore itu Romo Noto sangat mencerahkan umat yang mengikuti Misa Kudus di Gereja Santa Lidwina. Kita jadi mudeng sampai sangat detil bagaimana seharusnya menghormati Allah Tritunggal Mahakudus.

Pagi hari berikutnya, yaitu hari Minggu 7 Juni 2009, aku dan istriku di ruang makan kami sempat ngrasani Romo Noto. Istriku adalah salah satu pengagum Romo Noto dan katanya homilinya selalu berbobot mencerahkan iman. Istriku berceritera banyak tentang titik-titik pencerahan homili Romo Noto yang pernah di dengarnya di masa yang telah lewat dan masih diingatnya. Ckckck pokoke mengagumkan, katanya. Aku juga kagum kepada beliau sebab homili Romo Noto selalu jelas karena dikaitkan dengan hal-hal yang tidak kita ketahui, antara lain konteks peristiwa yang terjadi di Israel di masa lalu, misalnya tentang desa Kana pada pemberian anggur dalam Misa Kudus Pasutri di Gereja Kumetiran yang pernah aku ikuti. Romo bisa berceritera tentang anggur Kana yang akan diberikan kepada kami dan desa Kana dengan sangat bagus. Kekagumanku semakin teguh sebab homili selalu dikaitkan dengan kehidupan kita kini dan disini, dan semuanya itu disampaikan dengan sikap yang mantap sekali.

Pada akhir perbincangan dengan istriku pagi itu, entah bagaimana secepat kilat aku menangkap sebuah imajinasi iman yang bagiku sangat luar biasa. Bayangkan, jika kita mengikuti Misa Kudus di Gereja maka Tuhan hadir. Aku berpikir, apakah Tuhan Yesus hadir sendirian ? Pasti tidak !! Seorang presiden suatu negara saja jika hadir di suatu tempat selalu dikelilingi para pengawalnya yang bersenjata lengkap. Oleh karenanya, jika Tuhan hadir di Altar Suci Gereja Santa Lidwina pastilah seluruh isi surga juga hadir di Gereja Santa Lidwina !!!

Aku menjadi tersadar beberapa detik dalam suasana hati yang campur aduk antara bersyukur dan menyesal. Aku bersyukur karena diperkenankan memahami rahasia ini dan menjadi tahu bagaimana yang seharusnya bersikap pada saat Misa Kudus. Aku juga merenung sambil menyesali sikap dan perilaku diriku di masa lalu akibat dari ketidakpahamanku tentang rahasia suasana ilahi ini. Oh, betapa kita telah melecehkan Tuhan karena kebodohan kita. Romo Uskup Ignatius Suharyo sangat benar, beliau pernah ngendika bahwa kita memang harus cerdas dalam beriman supaya bisa membangun relasi yang personal dan semakin berkualitas dengan Tuhan.

Aku tiba-tiba terhenyak sejenak sebab menangkap sebentuk pemahaman yang sangat unik. Pada waktu itu di dalam batinku ada suara yang mengatakan dengan tegas: suasana setiap Misa Kudus adalah sangat-sangat suci. Bayangkan, ketika kita mengikuti Misa Kudus di gereja, kita sebenarnya didampingi Bunda Maria, dikelilingi oleh para Kudus dan para Malaikat. Mereka hadir semua di dalam suasana Misa Kudus yang kita ikuti. Aku lantas membayangkan, tentulah gereja pada saat itu menjadi bersuasana surgawi yang sangat agung dan suci. Bayangkan, ketika kita diajak Romo Noto membuat tanda salib untuk memulai Misa Kudus, maka serta-merta Bunda Maria, para Kudus dan para Malaikat juga bersama-sama dengan kita membuat tanda salib. Ketika menyantap Tubuh dan Darah Kristus semua isi surga juga melakukan hal yang sama dengan kita. Jadi pada waktu kita mengikuti Misa Kudus di Gereja Santa Lidwina, maka kita memasuki suasana surgawi bersama dengan Bunda Maria, para kudus, para malaikat dan semua penghuni surga !!!

Ya, surga hadir pada setiap hari Sabtu atau Minggu di Gereja Santa Lidwina !!!!

Matur nuwun Romo Noto atas inspirasi iman yang kami terima. Kami jadi tahu bahwa mengikuti Misa Kudus adalah mencicipi kebersamaan ilahi dengan Allah Tritunggal Mahakudus meskipun kita masih hidup di dunia ini.

Salam,

Djarot Purbadi


Leave a response

Your response:

Categories