Posted by: santalidwina | June 15, 2009

Romo Yamto tentang Tubuh dan Darah Kristus

Tubuh

(Sumber: sampul teks Misa Kudus)

Tulisan ini memaparkan tangkapan dan catatan penulis tentang homili Romo Suyamto pada Misa Kudus Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, di Gereja Santa Lidwina, Stasi Bedog, tanggal 14 Juni 2009. Homili Romo Yamto menarik dan mengesankan karena memberikan beberapa penjelasan yang perlu diingat sebagai orang Katolik. Homilinya juga hangat sebab disampaikan dengan cara yang akrab dengan umat.

Romo Suyamto memulai homili dengan dongeng tentang seorang nenek di Kalasan yang sembuh karena menyantap “Tuhan Yesus” . Pada suatu ketika ada seorang nenek dari Kalasan yang sedang sakit dan merindukan untuk menyantap Tubuh Kristus bagi kesembuhannya. Nenek tersebut sakit keras, mengalami kondisi yang setengah koma, namun beberapa kali bangun dan setiap kali bangun selalu minta kepada keluarganya untuk memberikan Hosti Kudus.

Pihak keluarga kemudian memohon Romo di paroki Kalasan untuk hadir ke rumah nenek yang sakit untuk memberikan Sakramen Minyak Suci. Ketika Romo hadir di rumah duka, nenek itu bangun dan sambil berteriak minta diberi Hosti Kudus. Romo menjadi bingung sebab keluarganya memintanya untuk memberikan Sakramen Minyak Suci tetapi sang nenek justru meminta Hosti Kudus. Pihak keluarga dan para prodiakon juga kebingungan sebab belum ada persiapan untuk Misa Kudus agar keinginan nenek sakit dipenuhi. Sang nenek kemudian pingsan lagi.

Setelah berembug seperlunya dan secepatnya, diutuslah seorang prodiakon muda untuk mengambil Hosti Kudus di Tabernakel gereja. Prodiakon yang masih muda ini segera berangkat ke pastoran, tetapi ketika tiba di sana gedung gereja terkunci. Ia kemudian mencari koster sampai beberapa waktu tetapi tidak bertemu, sebab sang koster pergi entah kemana. Prodiakon muda ini kebingungan dan hampir putus asa.

Ditengah kebingungan dan terdesak waktu, tiba-tiba ia mendapat gagasan untuk membeli hosti di toko perlengkapan ibadah di dekat gereja. Dari toko Bu Sumijo itulah ia membeli sepotong hosti kemudian di bawa ke rumah nenek yang sakit. Setelah sampai di rumah itu, ia matur kepada Romo bahwa ia tidak berhasil mengambil Hosti Kudus karena gereja terkunci dan koster dicari kemana-mana tidak ketemu. Ia menjelaskan bahwa hosti yang dibawanya itu dibeli dari toko perlengkapan ibadah di dekat paroki.

Ketika sedang menjelaskan hal itu, tiba-tiba nenek yang sakit itu bangun dan berteriak ”Mana Tuhan Yesus ?. Spontan Romo yang sedang memegang hosti belum diberkati menjawab ”Ini Tuhan Yesus ! sambil menyorongkan hosti di tangannya kepada nenek yang sakit itu. Sang nenek kemudian menerima hosti itu dengan penuh hikmad dan memakannya. Anehnya, sejak menerima hosti yang belum diberkati itu nenek yang semula pingsan-bangun segera berangsur-angsur sehat kembali. Akhirnya nenek yang sakit itu sembuh sama sekali.

Mengapa nenek bisa sembuh dengan cara yang aneh ? Dari kejadian itu tampak bahwa hosti belum diberkati itu, yang dalam penghayatan nenek sakit adalah Tuhan Yesus, telah menjadi kekuatan yang hebat untuk menyembuhkan. Kita tentu ingat kata-kata Yesus yang isinya lebih-kurang menyatakan bahwa ”imanmu menyelamatkan dirimu”. Oleh karenanya, dalam kasus nenek sakit, iman sang nenek telah menyembuhkan dirinya.

Kasus ini menjelaskan bahwa kekuatan yang menghidupkan orang Katolik adalah Tuhan Yesus. Oleh karenanya ada persepsi bahwa kekuatan orang Katolik ada pada Hosti Kudus di dalam Tabernakel. Bahkan pernah ada kejadian orang yang tidak mengerti kemudian mencari tahu dan mempersepsi bahwa kekuatan umat Katolik ada pada komuni. Artinya, jika Tabernakel dan Hosti Kudus yang ada di dalamnya di acak-acak maka orang Katolik akan kehilangan kekuatannya.

Romo Suyamto melanjutkan homili dengan menjelaskan bedanya salib Katolik dengan yang lain adalah keberadaan Corpus Yesus pada Salib. Hal ini mengandung makna yang sangat dalam. Ada orang yang berpikir, karena Tuhan Yesus sudah bangkit dan pergi ke surga, maka pada salib tidak diperlukan lagi ada Corpus Yesus. Tampaknya menurut logika bisa dibenarkan, sebab buat apa corpus Yesus digantungkan di salib toh Dia sudah dikuburkan dan bangkit mulia !

Bagi orang Katolik, salib dan corpus Yesus merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sebab sengsara dan kematian Yesus di kayu salib merupakan satu kesatuan utuh dengan kebangkitannya. Corpus Yesus justru menjadi simbol dan semangat untuk selalu mengingat bagaimana ”nderek Gusti Yesus” seutuhnya. Corpus Yesus memotivasi orang Katolik untuk selalu mengingat bahwa kebangkitan mulia dilalui dengan cara setia memanggul dan disalib bersama Yesus. Orang Katolik bahkan bisa menghayati spiritualitas penderitaan hidup sehari-hari dengan cara yang benar, yaitu bersyukur dalam penderitaan sebab diberi kesempatan khusus ”nderek pepada Dalem”. Penderitaan hidup sehari-hari kemudian dapat dipahami dan dihayati sebagai kesempatan khusus untuk secara nyata ikutserta merasakan penderitaan Yesus ketika sengsara dan wafat di salib, dan keikutsertaan suci itu menyelamatkan jiwa kita !

Selain itu, Romo Yamto juga memaparkan secara singkat tentang keprihatinan masa kini umat Katolik yaitu tentang bagaimana kepedulian umat terhadap kelangsungan pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah Katolik. Umat diajak meningkatkan kepedulian dan aksi nyata untuk melestarikan pendidikan dalam sekolah-sekolah Katolik sebab pendidikan di sekolah Katolik bukan semata-mata tentang keilmuan melainkan menumbuhkan dan memelihara iman.

Aku secara pribadi punya catatan khusus tentang Romo Suyamto. Keunikan Romo Yamto adalah suaranya yang gandem. Beliau selalu bernyanyi bersama umat dan jarang mendahului umat dalam setiap lagu. Hal ini kiranya sangat bagus sebab antara Romo dan umat bersama-sama kompak menyanyi memuliakan Tuhan. Tingkah laku beliau yang tenang dan sesekali menyapa umat dengan selipan bahasa Jawa (sambil tertawa sendiri lebih dulu) kemudian tertawa bersama umat dalam beberapa kali homili dalam Misa Kudus yang aku ikuti sungguh mengesankan sebab relasi batin di dalam ruang Gereja sangat dekat. Selamat buat Romo Yamto.

Salam,

Djarot Purbadi


Leave a response

Your response:

Categories