Posted by: santalidwina | May 31, 2009

Hari Raya Pentakosta

31 Mei 09 (Yoh 15:26-27; 16:12-15)

DIMINTA DATANG MENOLONG

Rekan-rekan yang baik!

Pada hari Pentakosta tahun B ini dibacakan kata-kata Yesus dalam Yoh 15:26-27. Teks itu jelas-jelas menyebut kedatangan Penolong yang diutus Yesus dari Bapa. Bagaimana memetik warta Pentakosta khususnya bagi kita sekarang? Adakah relevansinya bagi zaman kita dan lingkungan kita sekarang?

Sabda Tuhan dapat dan semestinya menjadi bagian dalam kehidupan, khususnya pada saat-saat orang merasa tak berdaya, di waktu kesusahan dan penderitaan, juga dalam kesulitan rohani. Kita biarkan Sabda Tuhan ikut memikul beban penderitaan kita. Kita boleh berharap, upaya kita ikut menangani akibat bencana juga akan disertai kekuatan dari atas. Marilah kita pahami gerak gerik kehadiran Penolong yang diutus Yesus bagi murid-muridnya dan bagi kita juga, sekarang ini, dalam keadaan ini.

KETABAHAN BERSAMA

Petikan hari ini sebenarnya bagian dari pesan-pesan Yesus kepada para murid pada perjamuan terakhir. Setelah menyampaikan perumpamaan pokok anggur dan ranting (Yoh 15:1-8; Minggu Paskah V tahun B) dan imbauan agar menumbuhkan kebersamaan yang sejati (Yoh 15:9-17; Minggu Paskah VI tahun B), Yesus mengajak mereka melihat pelbagai kenyataan hidup yang kerap kali kurang memberi rasa tenteram. Ditegaskannya bahwa ia sendiri dimusuhi dunia. Maka tak usah heran bila para pengikutnya juga akan mengalami hal yang sama. Kedatangan Yesus ke dunia membuat jelas siapa dan apa yang termasuk wilayah gelap tadi. Yang tadinya tidak kentara sekarang mulai dapat dirasakan hadir dan mencekam. Inilah tekateki kehidupan di dunia ini. Sering yang jahat, yang menyakitkan, yang membingungkan itu tidak dapat diterangkan kejadiannya, hanya dapat dirasakan adanya serta daya perusaknya. Ini semua dikatakan dalam Yoh 15:18-25 yang menjadi lanjutan dari bacaan Injil hari-hari Minggu sebelumnya tadi. Dapatkah kita hidup terus dalam keadaan ini? Mana bisa kita tahan? Begitulah tanya para murid dalam hati kecil mereka. Apalagi katanya sebentar lagi guru mereka akan diambil dan mereka akan sendirian. Apa gunanya bertahan? Injil hari Pentakosta kali ini menjawab kegundahan itu. Dan kekuatan yang muncul dari Injil itu dapat juga membuat kita berani ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Keberanian itu bisa menjadi kekuatan bagi mereka.

Mari kita lihat keadaan para murid dulu. Hingga saat itu mereka bisa membanggakan menjadi pengikut seorang tokoh tenar dan dianggap penting di mana-mana. Semua yang dilakukan Yesus serta tanggapan orang banyak membuat mereka percaya diri. Masa depan yang cemerlang kini tersedia bagi mereka. Yesus sendiri sebenarnya beberapa kali berusaha membuat kepala mereka tetap dingin. Tetapi biasanya antusiasme orang tidak gampang diatur akal. Hanya kenyataanlah yang dapat membuat mereka sadar apa yang sedang terjadi. Permusuhan, kedengkian para pimpinan masyarakat Yahudi waktu itu mulai terasa. Mula-mula hanya dalam ujud mempertanyakan kompetensi Yesus mengajarkan Taurat. Kelompok baru di sekitar Yesus ini dirasa sebagai ancaman. Konflik menjadi makin tajam dan akhirnya mereka menemukan pelbagai cara untuk mendiskreditkan Yesus di hadapan lembaga resmi agama dan pemerintahan Romawi. Kelanjutannya kita ketahui. Ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, para murid bubar. Dari bangga dan penuh keyakinan, kini mereka berkecil hati. Dari orang-orang yang berani bercerita mengenai sang Guru, sekarang mereka menjadi orang yang takut dituduh pengacau dengan risiko ditangkap. Mereka juga dianggap menawarkan ajaran yang keliru oleh para simpatisan mereka dulu. Mereka kehilangan muka di hadapan kaum sendiri. Inilah situasi para murid.

MENGENANG PERKATAAN YESUS

Dalam keadaan itulah mereka teringat akan pesan-pesan Yesus pada perjamuan terakhir. Injil memang terjadi sebagai kumpulan kenangan bersama mengenai tindakan dan kata-kata sang Guru. Pada kesempatan itu ia berbicara mengenai Penolong yang akan diutusnya dari Bapa. Pengertian kunci di sini ialah “Penolong”. Yunaninya ialah “parakleetos”, arti harfiahnya ialah yang diseru, dipanggil, diminta agar datang menolong. Ungkapan ini sebenarnya kata biasa dalam bahasa Yunani. Orang datang menolong mereka yang kena musibah dengan memberi bantuan apa saja. Mulai dengan memberi pertolongan sebisanya sampai ke regu khusus yang menangani keadaan yang paling gawat. Juga pertolongan bisa berujud penghiburan untuk membesarkan hati, menumbuhkan harapan dan kekuatan. Apa saja yang dapat menopang orang yang tidak dapat mengatasi keadaan dengan kekuatan sendiri dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan secepatnya. Itulah “parakleetos”. Dalam keadaan bencana, kehadiran para penolong memang lebih terasa. Tapi da lam kehidupan sehari-hari sebenarnya penolong ada di mana-mana. Boleh dikata, bakat alamiah manusia yang paling dasar ialah tumbuh menjadi orang yang bisa dimintai tolong orang lain. Bakat ini biasanya berkembang menjadi macam-macam pola tingkah laku “baik” di masyarakat.

Itulah latar pemakaian ungkapan “Penolong” dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa ia tnengutus dia yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu. Ditambahkannya bahwa Penolong itu berasal dari Bapa sendiri. Diutus berarti dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “Penolong yang kuutus”. Tugasnya ialah menanggapi kebutuhan orang yang minta tolong apa saja. Dan Penolong ini “keluar dari Bapa”. Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Maha Kuasa yang beperhatian sebagai bapak. Bagi orang zaman itu, cara berbicara seperti sarat muatan maknanya. Dulu orang Yahudi b erseru minta tolong ketika mengalami penderitaan di Mesir. Dan Tuhan mendengar keluhan mereka dan turun untuk menolong niereka dan menuntun mereka ke tanah yang akan diberikanNya kepada mereka (lihat Kel 3:7-10; 6:5-7 Ul 26:5-9). Kekuatan seperti itulah yang dimaksud oleh Yesus sebagai “Penolong yang kuutus dari Bapa”. la adalah Roh Kebenaran, yakni kekuatan yang benar, yang tepercaya, bukan yang bakal membawa ke tujuan lain

BERSAKSI?

Roh Kebenaran tadi akan menegaskan bahwa yang dikerjafcan Yesus selama hidupnya itu benar-benar dari Bapa asalnya. la menjauhkan kekuatan yang jahat, menyembuhkan, menghibur yang kena kesusahan, mengajar, membimbing banyak orang. Semuanya itu untuk memperbaiki kemanusiaan. Bagaimana? Roh tidak membuat orang takjub dan takut. la datang ke dalam kehidupan para murid dan dari dalam diri mereka ia menegaskan bahwa semua yang dilakukan Yesus adalah karya ilahi sendiri. Itulah yang dimaksud dengan Penolong atau Roh Kebenaran yang “bersaksi tentang diriku”.

Kekuatan ini mengatasi apa saja yang ditasa mencengkam dan tak bisa dihadapi sendiri. Tidak bergantung pada jenisnya, bisa berupa penindasan sosial dan religius seperti di Mesir dulu, bisa pula dirasa sebagai bencana alam, bisa pula dialami sebagai kekuatan-kekuatan yang tak tergambarkan tetapi yang selalu mengancam kehidupan. Inilah yang sering membuat orang merasa tak berdaya dan hanya bisa berdoa berseru minta tolong.

Para murid percaya bahwa sang Penolong sudah datang. Bagaimana penjelasannya? Ada dalam Yoh 15:26. Di situ mereka diminta menjadi saksi. Alasannya, mereka sejak semula sudah ada bersama dengan Yesus sendiri dan melihat karyanya. Kini mereka diminta melihat kembali semua itu sebagai karya ilahi dalam Roh Kebenaran yang datang kepada mereka. Kesaksian yang dimaksud jelas bukan sedia mati demi mempertahankan agama. Ini lain perkara. Dalam ayat-ayat Yohanes ini, kesaksian yang dimaksud ialah membiarkan sang Penol ong yang ada dalam komunitas orang beriman leluasa bertindak. Inilah kekuatan yang bisa memperbaiki kemanusiaan yang sedang mengalami kejadian seburuk apapun. Para murid Yesus didampingi Sang Parakleetos yang siap dimintai tolong dan selalu ada di dekat. Kita juga. Pelbagai upaya pertolongan yang kita usahakan dapat makin kuat, makin ambil bagian dalam yang dikerjakan Yesus dan yang kini dilakukan bersama dengan kekuatan yang dikirimkannya dari atas sana.

Sang Penolong tadi membuat orang percaya bahwa yang dilakukan Yesus itu ialah karya ilahi. Inilah kesaksian sang Penolong. Murid-murid Yesus di masa kini pun ikut diminta menjadi saksi karya ilahi yang masih berlangsung. Juga di tengah-tengah orang yang paling membutuhkan penghiburan dan pertolongan.

CATATAN: HARI RAYA PENTAKOSTA DAN PERISTIWA Kis 2:1 -11

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50″) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-2 1 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50″ ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turannya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50″ ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai di kalangan para murid terdekat, kemudian di antara merena yang mendengarkan kesaksian mereka, dan akhirnya ke seluruh penjuru dunia.

25 Mei 200915:52

Salam hangat,

A. Gianto

Catatan: Tulisan ini dapat ditayangkan di blog ini berkat kebaikan hati Romo Atas Wahyudi, Pr yang berkenan memberi kesempatan kepada kita untuk membacanya secara lengkap. Tulisan ini diperoleh dari Romo A. Gianto, dibawa ke mimbar dan isinya disampaikan dengan ringkas, jelas dan penuh semangat ketika Romo Atas memberikan homili pada Misa Kudus hari Minggu tanggal 31 Mei 2009 di Gereja Santa Lidwina, Stasi Bedog, Paroki Kumetiran, Yogyakarta.

Teknologi Baru, Relasi Baru:
Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan

Saudara dan Saudari Terkasih,

1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi mamajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.

(Manfaat Media Baru)

2. Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh peluang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.

(Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi)

3. Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah, yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.

( Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi)

4. Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: “Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.

Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.

( Media baru sebagai gelanggang berdialog)

5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.

(Persahabatan ‘on-line’ dan persahabatan riil)

6. Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ‘on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.

7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaring digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaring ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaring serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.

(Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital)

8. Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.

9. Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ‘benua digital’ ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka. Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka “kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu. Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya

Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales

Paus Benediktus XVI

Sumber: mirifica.net

(Catatan: bahan ini kiriman dari Frater Pensies)

Posted by: santalidwina | May 11, 2009

Papita Santa Lidwina

Stasi St. Lidwina Bedog, Paroki Kumetiran

Kapel Bedog sudah berdiri sejak tahun 1970 dengan pemberkatan oleh Rm. Mardi Suwignyo, Pr sebagai pastor pembantu Paroki Kumetiran ketika Rm. Joanes Reijnders, SJ menjadi pastor kepala di Paroki Kumetiran. Kapel ini dapat memuat 300 orang. Namun, jumlah umat bertambah sejak dibangun perumahan Nogotirto II, III, IV, V. Maka pada hari sabtu 6 Desember 2003 Bupati Sleman Drs. H.Ibnu Subiyanto,Akt berkenan meletakkan batu pertama pengembagan Kapel Bedog sebagai wujud nyata dukungan Pemda Sleman serta tanda dimulainya pembangunan fisik Kapel stasi Bedog yang berlindung pada Santa Lidwina. Pada tanggal 28 agustus 2005 diresmikan oleh Bupati Sleman Drs. H.Ibnu Subiyanto, Akt dan pada tanggal 31 Agustus 2005 diresmikan oleh Mgr. Ign Suharyo H, Pr, Uskup Keuskupan Agung Semarang.

Menurut penuturan Rm. G. Notobudyo,Pr. Agak sulit menyebut bangunan ini karena untuk ukuran Jogja, bangunan ini terlalu kecil untuk disebut gereja. Padahal sebagai kapel, bangunan ini bisa dikatakan megah. Apalagi diresmikan oleh Bapak Bupati dan Bapak Uskup

PAPITA St. Lidwina (Stasi Bedog, Paroki Kumetiran) sendiri baru kinyis-kinyis eksis di blantika Putra-Putri Altar. Bisa dikatakan baru dua tahun ini mendapat roh yang baru. Awalnya, kegiatan PPA di stasi St. Lidwina, Bedog hanya berkisar di altar. Sedangkan kegiatan yang lain mengikuti PPA Paroki Kumetiran sebagai pusat.

Namun, sejak dua tahun lalu, semasa kepengurusan dipegang oleh Dita sebagai ketua, PAPITA St. Lidwina dihidupkan dan menjadi satu paguyuban. Semangat dan tekad kuat para anggota PAPITA menjadi pendorong berbagai kegiatan yang kemudian dilaksanakan bersama. Pada tahun lalu, untuk semakin menggalakkan semangat pelayanan, PAPITA St. Lidwina mengadakan rekoleksi di bulan Juni. Selain itu, PAPITA St. Lidwina juga meningkatkan kerohanian dan menumbuhkan panggilan sedari dini. Kegiatan yang dilaksanakan di bulan Agustus tersebut berupa ziarah dan kunjungan ke Seminari Menengah Mertoyudan serta ke Taman Kyai Langgeng, Magelang.

Hingga kini, pertemuan rutin misdinar dilaksanakan dua minggu sekali. Kegiatan rutin PAPITA adalah latihan misdinar, pendalaman Kitab Suci, sharing pengalaman, refreshing, dll. PAPITA St. Lidwina mendapat pendampingan dari para frater Seminari Tinggi Kentungan sejak dua tahun lalu. Tidak heran jika kesegaran jasmani dan rohani senantiasa terjaga.

Tarcisius Cup IX di Paroki Kalasan ini adalah lomba Tarcisius pertama yang diikuti PAPITA St. Lidwina, Bedog. Maka, untuk teman-teman semua, selamat berjumpa dengan PAPITA St. Lidwina, Bedog dalam satu persaudaraan Putra-Putri Altar.

—————-
Buat blog-nya santalidwina, ini catatan sederhana dari perjalanan PAPITA.
dulu pernah dikirim ke Panitia Tarcisius Cup IX di Kalasan untuk dibuat buku.
sayangnya, tidak termuat dalam buku panduan karena kita bukan PAPITA Paroki/Paroki Administratif (kita satu-satunya peserta dari stasi – putra Altar Kumetiran juga ikut).
—————
CATATAN: semoga bisa dimuat di blog santalidwina PAPITA sebagai bagian dari Gereja Bedhog juga turut serta mengembangkannya. dukungan umat pada PAPITA juga sangat menggembirakan kami.
TengKiu, Berkah Dalem!

Fr. Pensies

Admin: mohon maaf terlambat memuat !

Posted by: santalidwina | April 28, 2009

Sejarah Singkat Keuskupan Agung Semarang

Pada tanggal 7 Agustus 1806 Raja Lodewijk Napoleon mengumumkan undang-undang kebebasan beragama. Akibatnya, Gereja Katolik di Indonesia, yang dilarang sejak tahun 1621, dapat berkembang lagi. Pada tahun 1807 mulailah lembaran baru dalam sejarah Gereja, ketika wilayah Hindia Belanda menjadi satu kesatuan dalam Gereja Katolik, yaitu Prefektur Apostolik Batavia. Dua imam sekulir dari Negeri Belanda tiba di Jakarta pada tanggal 4 April 1808 sebagai misionaris pertama. Pastor Jacobus Nelissen menjadi pemimpin pertama misi, yang meliputi seluruh Nusantara, dan beliau berkediaman di Jakarta.

Selama 50 tahun berikutnya, 31 imam sekulir mengikuti jejak langkah kelompok kecil misionaris pertama itu. Di antara mereka adalah Pastor C.J.H. Franssen yang ditugaskan di Ambarawa. Pada tahun 1859 dua imam Yesuit tiba di Jakarta untuk membantu para imam sekulir itu. Selama masa jabatan Mgr. A.C. Classens (1874-1893), hanya dua imam sekulir saja bertahan. Akan tetapi, sementara itu 57 imam Yesuit berdatangan. Dengan demikian, praktis seluruh karya pastoral Gereja ditangani oleh imam Yesuit. Pada tahun 1893, ketika pastor W.J. Staal, SJ ditugaskan menjadi Vikaris Apostolik, tanggungjawab evangelisasi di Indonesia secara kanonik dialihkan dari imam sekulir kepada Serikat Yesus.

Pada tahun 1842 Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan menjadi Vikariat. Pada tahun 1866 Vikariat Apostolik Batavia dibagi menjadi 8 stasi: Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere dan Padang.

Pada tahun 1903, seorang guru Kerasulan dan 4 orang kepala desa dari pegunungan wilayah Kalibawang berkunjung pada Rama van Lith. Empat orang ini dibaptis pada tanggal 20 Mei 1904. Dan kemudian, 171 orang menyusul dibaptis oleh Rama van Lith pada tanggal 14 Desember 1904 di Sendangsono. Peristiwa tersebut di luar harapan Rama van Lith. Mgr. Luypen dan pembesar SJ menafsirkan bahwa peristiwa pembaptisan tersebut sebagai tanda yang jelas bahwa metode Rama van Lith menghasilkan buah. Sementara itu pada tanggal 27 Mei 1899, Rama Hoevenaars SJ, teman seperjalanan Rama van Lith dari Eropa ditugaskan di Mendut. Ia berpendapat bahwa misi harus langsung mengarahkan kegiatan-kegiatannya pada rakyat kelas bawah. Ia berhasil juga. Dalam jangka waktu setengah tahun setibanya di Indonesia, telah dibaptis 62 orang Jawa. Pada akhir tahun 1903 jumlah orang Katolik di stasi Mendut lebih kurang 300 orang.

Kedua metode tersebut dipraktikkan dan dipertahankan oleh kedua misionaris pertama itu. Pada tanggal 27 Juni 1905 Rama Hovenaars dipindahkan ke Cirebon. Beberapa tahun sesudahnya, ketika ia ditugaskan di Surakarta, ia mengakui keunggulan kebijakan Rama van Lith dan mengikuti jejaknya.

Terutama wilayah sekitar Surakarta dan Yogyakarta terbukti menjadi tanah subur bagi benih-benih firman Allah. Sampai sekarang mayoritas umat Katolik Keuskupan Agung Semarang tinggal di wilayah tersebut. Di situlah terdapat pengaruh kuat dari keraton Surakarta dan Yogyakarta, bersamaan dengan nilai budaya tradisional yang telah berakar sangat dalam di hati dan sikap hidup masyarakat.

Nilai-nilai budaya tersebut tidak menjadi ancaman atau diganti dengan agama Katolik. Karena alasan itulah, proses inkulturasi, yang telah dirintis oleh Rama van Lith, mengutamakan perlunya bahasa Jawa. Bahasa tidaklah sekedar sarana komunikasi, tetapi juga kristalisasi jiwa masyarakat dalam memandang dunia dan manusia secara khas Jawa. Di Muntilan Rama van Lith adalah pastor pertama yang dapat berkomunikasi dengan masyarakat Jawa dalam bahasa Jawa. Ia menterjemahkan doa Bapa kami dalam bahasa Jawa.

Rama van Lith berhasrat memberi kaum muda Jawa, pria dan wanita, suatu pendidikan yang bermutu tinggi, yang membuat mereka mampu memiliki posisi penting dalam masyarakat. Maka diselenggarakan pendidikan Kristiani, agar mereka menjadi benih-benih kerasulan yang dapat tumbuh dan berbuah di kemudian hari. Pada tanggal 14 Januari 1908 Tarekat Suster Fransiskan mendirikan sekolah ketrampilan khusus untuk gadis-gadis Jawa di Mendut.

Peristiwa sangat penting di Keuskupan Agung Semarang adalah didirikannya Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Rama F.X.Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranta, SJ.

Pada tahun 1915 Rama van Driessche, SJ (1875-1934) merintis karyanya di antara orang-orang Jawa di Yogyakarta dengan bantuan seorang katekis.

Karya misi sungguh didukung dan dikembangkan oleh Tarekat Bruder FIC. Lima Bruder pertama datang dari Negeri Belanda di Yogyakarta pada bulan September 1920. Langsung saja mereka ditugaskan untuk mengajar di HIS. Kedatangan Bruder-Bruder berikutnya mampu memekarkan karya mereka di kota-kota lain seperti Muntilan (1921), Surakarta (1926), Ambarawa (1928) dan Semarang (1934). Pada bulan Januari 1922, Percetakan Kanisius mulai beroperasi dan dipercayakan kepada Tarekat Bruder FIC.

Rama Strater, SJ mendirikan Perhimpunan Wanita Katolik pada tanggal 9 September 1923. Berdirinya Organisasi Partai Politik Katolik pada bulan Agustus 1923 menjadi bukti perkembangan Gereja dan keberanian orang-orang Katolik dengan pusatnya di Yogyakarta.

Disebabkan oleh perbedaan situasi antara Jawa Barat/Batavia dan Jawa Tengah, dan demi berkembangnya Gereja, pada tanggal 1 Agustus 1940 didirikanlah Vikariat Apostolik Semarang. Paus Pius XII menetapkan Rama Albertus Soegijapranata SJ menjadi Vikaris Apostolik. Ia menjadi uskup pribumi Indonesia pertama.

Peristiwa tragis menimpa dua orang hamba Tuhan, Rama Richardus Kardis Sandjaja, Pr. dan Frater Hermanus Bouwens, SJ. Pada tanggal 20 Desember 1948 mereka dibunuh di dusun Kembaran dekat Muntilan. Peristiwa itu berkaitan dengan penyerangan pasukan Belanda di Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, yang biasa disebut dengan clash kedua.

Mgr. Albertus Soegijapranata SJ wafat pada tahun 1963, dan dimakamkan di makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, sebagai Pahlawan Nasional. Mgr. Justinus Darmojuwono, Uskup kedua (1964-1981), diangkat menjadi Kardinal pertama di Indonesia (26 Juni 1967). Agar karya pastoral semakin berbuah, pada tahun 1967 Kardinal Justinus Darmajuwono mendirikan 4 Vikariat Episkopalis di Keuskupan Agung Semarang, yaitu Semarang, Kedu, Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono wafat pada tanggal 3 Februari 1994, dan dimakamkan di Makam Muntilan.

Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ, penggantinya memimpin Keuskupan Agung Semarang (1984-1996). Mgr. Julius mengembangkan karya pastoral berdasarkan Arah Dasar Keuskupan untuk periode lima tahunan (1984-1990; 1990-1995; 1996-2000). Beliau kemudian juga diangkat menjadi Kardinal, dan kemudian dipindahtugaskan ke Jakarta menjadi Uskup Agung Jakarta. Mgr. Suharyo (1997-sekarang) terus mengembangkan karya pastoral dengan mengumatkan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang untuk periode 2001-2005. Berinspirasikan ajaran Konsili Vatikan II Mgr. Suharyo mendorong Gereja Katolik mewujudkan diri menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban yang hidup, tempat orang-orang beriman menghayati Gereja sebagai peristiwa iman.

Benih-benih firman Allah telah berkembang dan menghasilkan banyak buah sebagaimana tampak dalam statistik dari tahun 1941-2004 (Catatan: data statistik tidak ditampilkan, data ada di situs resmi KAS).

(Sumber: Situs Resmi KAS).

Posted by: santalidwina | April 27, 2009

Umat Stasi Menulis Sendiri Sejarahnya

Dear All,

Kami admin blog Santalidwina berkeinginan untuk memotivasi dan mendorong umat agar berkenan mengumpulkan dan menayangkan informasi “sejarah” umat di stasi Santa Lidwina. Sekarang stasi terdiri atas lingkungan Bedog, Nusupan, Nogotirto dan Griya Arga Permai. Telah banyak peristiwa terjadi dan jika dibiarkan begitu saja akan berlalu serta menjadi bagian dari masa lalu yang tertutup. Dalam pandangan kami, tumbuhnya umat di setiap komunitas memiliki “sejarah” yang menunjukkan bagaimana peristiwa Tuhan hadir dalam kehidupan umat sekaligus memimpin arah kehidupannya.

Nah, agar kejadian tersebut tidak lenyap begitu saja, kita dapat menghadirkannya kembali melalui tuturan atau paparan umat (muda atau sepuh) yang masih mengingatnya. Melalui paparan ingatan tersebut umat masa kini masih dapat menggali dan menemukan nilai dari peristiwa masa lalu untuk diteruskan dan dihayati kembali. Nilai tersebut dapat menjadi obor penerang bagi generasi ke generasi, misalnya bagaimana kegigihan katekis tokoh-lokal tertentu ketika bekerja di ladang Tuhan.

Bisa diceriterakan kembali semua pengalaman personal yang unik terhadap kejadian-kejadian masa lalu, baik melalui kata-kata maupun foto-foto. Foto sendiri bisa berceritera banyak, dan akan semakin kaya informasi jika ada penjelasan kata-kata yang melengkapinya. Usaha pemaparan ini bisa hanya dilandasi keinginan mengungkapkan fakta apa adanya, namun juga bisa ada ulasan yang mampu menunjukkan nilai, bahwa di balik peristiwa masa lalu itu ada nilai-nilai imani yang patut diteladani.

Usaha pengumpulan kenangan masa lalu ini diharapkan berlangsung terus-menerus dalam rentang waktu yang tidak dibatasi untuk mengakomodasi letupan-letupan pengalaman yang tidak menentu kapan munculnya. Sampai pada kurun waktu tertentu, dibayangkan akan terkumpul sejumlah informasi yang barangkali cukup untuk menuliskan “sejarah” umat stasi Santa Lidwina secara lebih mantap. Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa umat sendiri menuliskan sejarah komunitasnya melalui langkah-langkah sederhana.

Sejarah umat lokal penting dituliskan bukan semata-mata untuk sejarah itu sendiri sebagai “dongeng” tentang masa lalu. Sejarah lokal dengan tokoh-tokoh lokal kita sendiri amat penting maknanya pada masa kini maupun dan terlebih-lebih bagi masa depan. Tokoh sejarahnya ya kita-kita ini dan jika dituliskan semata-mata demi mengungkapkan nilai serta jauh dari maksud-keinginan untuk menciptakan kultus individu. Tokoh sejarah lokal mesti diungkapkan sebab nilai sejarah melekat pada sang tokoh dan peristiwa yang dialaminya, maka mengungkapkan nilai sejarah pastilah tidak dapat dilepaskan dari tokoh pelakunya.

Bukan tulisan yang canggih dan berpanjang-panjang, melainkan tulisan sederhana satu dua tiga alinea yang mampu mengungkapkan fakta dan nilai peristiwa yang kita alami. Di dalamnya kita bisa melihat bersama bahwa peristiwa itu biasa tetapi bermakna dalam untaian waktu sejarah umat stasi ! Siapa bisa mengungkapkan kehadiran dan nilai kehadiran dari Pak Dulmuin, Pak Tartono, Pak Martonarpodo dalam pertumbuhan umat Nusupan dan Bedog jika bukan kita sendiri yang masih ingat dan punya kenangan dengan beliau ? Siapa bisa menghadirkan kembali Romo Reijnders, Romo Mardi, Romo Bambang, Romo Koko, Romo Awan dan lainnya yang sempat hadir meski sesaat sebagai gembala di stasi kita ? Siapa bisa mendongeng tentang situasi batin dan penghayatan iman mbah Joyo putri yang setiap kali memetik pisang di kebun miliknya selalu dipilih yang terbaik, digendong sendiri dan berjalan kaki dari Nusupan ke Kumetiran untuk dipersembahkan buat para gembalanya di Kumetiran ??? Ya, dongeng – dongeng dan peristiwa yang sederhana saja, namun mulia dalam perspektif orang beriman !

Akhirnya harus ditegaskan, semua umat diundang untuk menjadi tokoh sejarah lokal sekaligus menuliskan sejarah dalam arti menuliskan nilai-nilai sejarah. Mari menulis sejarah umat lokal melalui peristiwa yang kita alami sendiri, apa yang dilihat dan dirasakan, bagaimana peran Tuhan dalam sejarah hidup kita masing-masing. Artinya, menulislah dan sumbangkan ke blog Santalidwina ini.

Selamat Menulis Sejarah !

Salam,

Djarot Purbadi

Oleh : Eliza Dali Mustika

Pendahuluan

Kalau Anda melewati Jalan Jambon di Bedog yang menuju ke arah Jalan Ring Road Kota Yogyakarta bagian Barat, akan nampak bagi Anda di sisi utara jalan, adanya sebuah bangunan Gereja. Seperti Anda lihat, bentuk bangunan Gereja itu seturut arah jalan menghadap Barat, ramping memanjang menjulang tinggi bersambung dengan bangunan Kapel Lama yang kini berfungsi sebagai Panti Stasi. Gereja yang masih berstatus Stasi itu dipersembahkan kepada Santa Lidwina yang dipilih sebagai Santa Pelindungnya, dan karenanya dinamakan Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog.

Bangunan Gereja itu terdiri dua tingkat. Pertama, tingkat bawah atau dasar (basement), yang bersifat multifungsi : seperti untuk upacara dan prosesi Minggu Palem, untuk pesta umat, lomba, dan pada kesehariannya dipergunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Secara simbolik religius bangunan tingkat dasar (basement) ini sebagai lambang peziarahan umat beriman (Gereja) di dunia ini : untuk ber-ulah-tapa dengan laku pentobatan dan percaya kepada Injil (Mrk 1 : 15), agar menjadi lebih pantas ikut serta merayakan Ekaristi dan rahmat Penebusan, dan dari situ dapat menemukan dan menerima ” pancaran daya hidup dan kekudusan” (RH 7:18). Kedua, ialah Bangunan Gereja itu sendiri, yang menghadap ke Barat dan berdiri megah di atas bangunan dasarnya (basement). Secara simbolik religius Bangunan Gereja Stasi Santa Lidwina ini sebagai lambang Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah atau Rumah Bapa, yang menjadi arah dan tujuan kepulangan peziarahan umat beriman (Gereja) tertebus , untuk bersama-sama Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Orang-Orang Kudus menghadap Bapa, untuk bersyukur serta memuji dan memuliakan-Nya, serta ikut-ambil-bagian dalam perayaan Ekaristi-Abadi, Pesta Cinta-Kasih Kekal, berkat kemenangan Putera Tunggal Bapa dalam merebut hati umat manusia.

Sebagai tanda syukur unik atas rahmat-karunia Allah dengan berdirinya Gereja Stasi Santa Lidwina pada tahun 2005 AD (Anno Domini : Tahun Tuhan, Tahun Masehi atau Messias) yang bertepatan pula dengan tahun 1938 AJ Anno Javanico : Tahun Jawa), maka dikenanglah peristiwa penting tersebut dalam bentuk dua sengkalan (kronogram). Dengan sengkala (n) atau kronogram (chrono : angka tarich / tahun dan gram dari graphein : tulis, menulis) dimaksudkan sebagai suatu kalimat atau rangkaian kata-kata (dalam bahasa Jawa) yang masing-masing kata mengandung makna nilai angka tahun. Cara membacanyapun harus dari kanan ke kiri atau dari belakang ke depan, dan bukannya dari kiri ke kanan atau dari depan ke belakang. Tahun sengkalan (kronogram) yang berdasarkan peredaran matahari (surya), tahun Masehi misalnya, disebut suryasengkala, sedang tahun sengkalan yang berdasarkan peredaran bulan (candra), tahun Jawa misalnya, disebut candrasengkala. Dimanakah letak kedua sengkalan, baik suryasengkala dan candrasengkala di Gereja Stasi Santa Lidwina tersebut ? Keduanya tertulis di atas Pintu Gerbang.

Pertama, kalau akan memasuki basement, Anda amatilah, di atas Pintu Gerbang terpampang suryasengkala yang berbunyi : Manah Suci Luhuring Rerenggan, 2005 AD. Artinya : Hati Suci Termulianya Perhiasan, 2005 AD. Dan kedua, apabila Anda akan memasuki Gereja, silakan amati pula di atas Pintu Gerbang yang menghadap Barat dan Anda akan dapat membaca candrasengkala yang berbunyi : Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ. Artinya : Rindu Memandang Wajah Tuhan, 1938 AJ. Sekarang silakan, ungkap serta terapkan nilai-nilai angka tahun yang berada di belakang sengkalan tersebut pada kalimat sengkalan sesuai dengan petunjuk di atas ! Dan mengapa pula kedua sengkalan (kronogram) tersebut pantas dipersembahkan kepada Santa Lidwina ?? Marilah bersama kita kontemplasikan relasinya dengan kekudusan Santa Lidwina, serta apa pula maknanya bagi ulah-tapa pertobatan kita ?

Manah Suci Luhuring Rerenggan, 2005 AD: Menuntut Pengosongan Diri

Letak Gereja Stasi Bedog yang dikitari dusun dan persawahan sungguh tepat untuk mengilustrasikan dan mendeskripsikan pola kesederhanaan hidup gadis dusun Santa Pelindungnya, Santa Lidwina, yang amat cantik itu. Lidwina (1380-1433) lahir di Negeri Belanda. Ia adalah putri dari keluarga petani yang sederhana pula, Ibu dan Bapak Peter. Pakaian Lidwina senantiasa sederhana, tanpa suatu dandanan. Rambutnya lebat, panjang dan terurai di punggungnya. Kulitnya halus kemerah-merahan semerah buah appel. Matanya putih kebiru-biruan bagaikan memancarkan kebersihan dan kemurnian hatinya. Lagi pula bagi Lidwina, kesucian hati sebagai hiasan jiwa yang termulia jauh-jauh lebih berharga daripada harta dan kecantikan rupa serta keelokan tubuh. Baginya hanya Yesus dan Maria sajalah yang menjadi harta terbesar dan termulia. Sungguh suatu sikap dan nilai yang melebihi dari yang seharusnya !

Memang gadis Lidwina bukanlah seorang biarawati. Ia hanya gadis petani dusun yang sederhana. Seperti halnya di Gereja Stasi Bedog, Lidwina pun berkesempatan untuk senantiasa singgah di Gereja dusunnya (di negeri Belanda) sebelum dan sesudah bekerja di sawah-ladangnya. Di dalam persinggahan Gereja inilah senyum manis Bunda Maria serta sapa kasih Tuhan Yesus menyambutnya. Perjumpaan Lidwina dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus pun akhirnya diketahui pula oleh kedua orang tuanya, sehingga ibunya pun bertanya dalam hati : ” Betulkah kita dianugerahi Tuhan seorang anak yang suci ? Betapa bahagia kita !”

Tiada terkecuali, usia kritisnya pun harus mengguncang pula gadis remaja Lidwina. Pada usia 15 tahun kuntum bunga dusun sedang mekar-mekarnya semerbak dan mengharum, namun memaksa Lidwina harus mengulum senyum. Dia merasa jemu dan kesal hatinya dengan segala pujian yang kian hari kian berlebihan serta terus berdenging di telinganya.

Peter, bapa-nya pun tak mau berunding dengan segala macam lamaran dari para bangsawan dan hartawan. Namun akhirnya terbujuk pula. Dipanggilnya Lidwina serta disampaikannya permintaan para bangsawan dan hartawan tersebut. Lidwina gemetar, wajahnya menjadi pucat, kemudian merah padam. Air matanya bercucuran. Sambil memeluk bapanya seakan-akan meminta perlindungannya, ia pun berkata : ” Bapa, ampun, ya Bapa, biarlah aku tetap tinggal di rumah bapa seumur hidupku !” Tiba-tiba Lidwina berdiri tegak, dengan raut wajah yang penuh kepastian dan mantap berkatalah dia : ” Bila orang tak berhenti mengganggu aku, akupun akan memohon kepada Tuhan perubahan rupa, hingga jadi sejelek-jeleknya, supaya orang tak sudi lagi memandang daku !”

Sungguh suatu ungkapan pengosongan diri yang sepontan dan luar biasa ! Demi cinta-kasihnya kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus, sanggup pula Lidwina mengosongkan diri, untuk melepaskan segala kecantikan rupa serta keelokan tubuhnya, hingga menjadi sejelek-jeleknya, supaya orang tak sudi lagi memandang dirinya dengan segala mimpi dan harapan duniawinya.

Secara gaib pula seakan alam pun ikut berkejaran bertukar busana. Musim dingin pun tiba. Warna-warni pesona hiasannya ditanggalkan ! Alam pun berganti baju putih belaka. Selimut salju tebal menutupi seluruh bumi. Dataran rendah, bukit, lembah, sungai, danau ataupun kolam-kolam, seluruhya berubah menjadi hamparan luas arena air beku. Penduduk kota maupun desa kembali akan beramai-ramai menghangatkan suasana dengan ” olah raga musim dingin. ”

Beberapa gadis lengkap dengan sepatu es-nya tiba di depan rumah Lidwina dan memanggilnya : ” Lidwina, yuuuk ikut bermain !” Untuk menyenangkan teman-temannya Lidwina ikut juga. Tiada lama sampailah mereka ke padang salju. Mereka pun bergelinciran kian kemari bagaikan menari-nari. Tetapi ………tiba-tiba terdengar bunyi berdebam disertai pekik kesakitan. Semua orang menoleh ke arah bunyi itu, dan dilihatnya : Lidwina terjatuh ! Lidwina menangis tersedu-sedu tak berdaya lagi. Seorang dewasa yang tegap badannya menghampiri Lidwina, dan didukungnya diantarkan pulang. Secepat angin bertiup, tersiar pula kabar : ” Lidwina, si gadis jelita itu, jatuh di padang salju ! Mungkin pula ada yang patah tulangnya !”

Ibu, bapa, serta kakaknya terkejut benar, namun ………..menerima dan pasrah apa yang telah terjadi. Lidwina ditidurkan, segera dipanggilkan dokter ! Dokter-dokter tersohor pun tiap hari datang mengobati Lidwina, namun rasanya senantiasa gagal. Makin hari makin bertambah parah. Pahanya patah dan tak kunjung sembuh. Lukanyapun makin melebar dan mendalam. Sehari-harinya Lidwina terbaring di kamarnya yang sempit dan sepi itu. Dan akhirnya ….. si gadis jelita itu ….. rupanya menghilang dari ingatan dan kenangan mereka-mereka yang dahulu berebut dan berharap.

Dalam alunan sepi antara harapan dan kecemasan itu ………..rupanya Tuhan datang untuk mengukuhkan dan menuntaskan pengosongan dan pengingkaran diri Lidwina, agar dengan belajar rendah hati ia tidak lagi mencari kepentingan dirinya sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Flp 2 : 3 ). Antara sadar dan tidak sadar terdengarlah suara wahyu yang menyeruak dari dalam kalbunya : ” Lidwina, lupakah engkau dengan permohonanmu ? Maukah engkau membayar kesucian hati dan jiwamu dengan kecantikan tubuhmu ? Ketahuilah, Tuhan sedang memenuhi permohonanmu ! Jika engkau bersedia menerima keadaan ngeri tubuhmu, kasih karunia Tuhan akan berlipat ganda memenuhi jiwamu ! Dengan rasa takut-takut-berani, Lidwina pun berbisik menjawab : ” Terserahlah ! KehendakMulah yang terjadi !”

Sejak saat itu permohonan pengosongan dan pengingkaran diri Lidwina dengan melepaskan segala kecantikan rupa dan keelokan tubuhnya dipenuhi oleh Tuhan. Ia berubah rupa menjadi sejelek-jeleknya. Lidwina, si gadis jelita, kini menjadi si gadis buruk muka. Namun, hati dan jiwanya semakin indah bercahaya-cahaya seputih salju. Mulai hari itu pula Lidwina menjelma menjadi ”Dewi Dukacita” yang mampu merasakan bahwa : teman dalam suka datang sendiri, sedang teman dalam duka sulit dicari.

Nilai dan sikap pengosongan diri bukanlah hal yang baru dalam budaya Jawa. Marilah kita renungkan bersama tiga bait (pada) 42, 43, dan 44 kidung (tembang) Pucung petikan dari Serat Wedhatama seperti di bawah ini :

Basa ngelmu, Mupakate lan panemu, Pasahe lan tapa, Yen satriya Tanah Jawi, Kuna-kuna kang ginilut triprakara. Lila lamun, Kelangan nora gegetun, Trima yen ketaman, Sakserik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing Bathara. Bathara Gung, inguger graning jejantung, Jenek Hyang Wisesa, Sana pasenedan suci, Nora kaya duraka mudhar angkara.

Artinya, yang namanya ilmu (agama, rohani), sepantasnya sesuai pertimbangan, berhasilnya dengan bertapa, Bagi ksatria Jawa, dahulu kala berpedoman dalam tiga hal. Rela apabila kehilangan dan tidak masgul (kecewa), menerima (sabar) bila mendapat sesuatu yang menyakitkan hati dari sesama, tiga : ikhlas, menyerahkan kepada Tuhan. Yang Maha Agung, bertahta dalam jantung (hati), Yang Maha Kuasa berkenan tinggal di Peristirahatan Suci, tidak seperti si jahat menuruti angkara.

Nilai dan sikap-sikap: tapa, rela (ikhlas), sabar dan menerima bila disakiti hatinya, dihina dan difitnah oleh sesama, menyesal, dan pasrah diri kepada Tuhan adalah bentuk-bentuk sikap pengosongan dan pengingkaran diri. Dengan nilai dan sikap-sikap keutamaan seperti itulah kita dapat ikut ambil bagian serta menyatukan diri dalam Salib Yesus, suatu pengosongan diri yang tuntas serta merendahkan diri dan taat sampai mati demi kasih-Nya kepada Bapa dan demi keselamatan umat manusia.

Seperti diungkapkan dalam tembang di atas, Tuhan Yesus pun sebagai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa hanya berkenan tinggal dan beristirahat di hati, jantung, dan jiwa kita yang telah kita kosongkan dari segala bentuk cita-cita duniawi yang sia-sia. Buah-buah karunia penebusan Kristus : seperti kekudusan (kesucian), kebangkitan, kemuliaan, dan kehidupan abadi menuntut dan mempersyaratkan pengosongan atau pengingkaran diri. Dalam sengkalan (kronogram) semua konsep atau kata-kata yang mengandung makna nilai-nilai luhur atau illahi seperti : suci (kudus), luhur (tinggi, agung), sonya (sepi, pertapaan), mukswa (naik ke surga bersama raganya), surud, pejah atau seda (meninggal dunia ), serta swarga (surga), dan lain-lain mengandung makna : nilai angka : 0 (nol, nihil, kosong). Itu mengisyaratkan pula bahwa untuk menggapai yang suci dan yang luhur perlu disertai dengan laku pengosongan diri. Kiranya menjadi jelas bahwa dengan menggoreskan suryasengkala sebagai terpahat di atas Pintu Gerbang Basement : Manah (5) Suci (0) Luhuring (0) Rerenggan (2) dimaksudkan di samping sebagai ungkapan syukur umat atas berdirinya Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog pada tahun 2005 AD (Anno Domini, Tahun Tuhan, Tahun Masehi), namun juga mengandung harapan, agar dengan berkat dan kasih karunia Tuhan sikap dasar spiritualitas : Hati Suci sebagai Perhiasan (Jiwa) Termulia sebagaimana telah diperjuangkan oleh Santa Lidwina, dapat menjadi sikap dasar spiritualitas umat Stasi Bedog dengan segala dinamika pergulatan pengosongan dirinya.

Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ: Kasih Karunia Kemuliaan Tuhan

Bisik perwahyuan Tuhan telah mengubah sama sekali semangat Dewi Dukacita. Seluruh hidupnya kini diperuntukkan semata-mata bagi pelayanan Tuhan. Ruang kamarnya yang sunyi sempit itu seakan meluas dan berubah menjadi ruang doa bagi umat manusia di semesta dunia. Tubuhnya yang bengkak-bengkak berbisul besar-besar serta nampak mengerikan itu, dipersembahkannya kepada Tuhan sebagai silih dosa-dosa umat manusia.

Lidwina diperbolehkan untuk menyambut Ekaristi setiap hari. Maka Lidwina pun meskipun sakit, kepalanya pening dan tangannya kaku, menyiapkan dan menyulam serta menjahit sendiri kain yang diperlukan untuk Ekaristi Kudus. Dan setiap hari pula seorang Pastor datang untuk menerimakan Tubuh Kristus. Tiap-tiap hari, karenanya, ruang sunyi yang sempit itu menjelma menjadi sebagian dari Surga, yakni pada saat Hosti Kudus datang dan menyatu dengan Dewi Dukacita ! Santapan Kudus itu bagi Dewi Dukacita menjadi penyembuh mujarab : bukan untuk kesembuhan kesehatan badannya yang kian hari kian bertambah buruk, melainkan untuk kesembuhan kekuatan jiwanya yang makin hari makin menghebat. Memang Lidwina sendiri pun tidak menghendaki dan tidak memohon kesembuhan badani, melainkan kesembuhan jiwalah yang diminta. Beberapa kali saudaranya meminta : ” Lidwina, doamu kan jitu, mohonlah kesembuhan badanmu !” Dengan senyum Dewi Dukacita pun menjawab: ” Biarpun dengan satu kali saja doa ” Salam Maria ” cukup sudah untuk menyembuhkan tubuhku yang mengerikan ini, namun aku tidak akan memintanya ! Lidwina tidak ingin sembuh lagi dari sakit yang disandangnya, asal saja kehendak Tuhan terjadi pada dirinya.

Dewi Dukacita sungguh sadar akan guna hidup di dunia ini dan apa yang menjadi tugas hidupnya sebagai dikehendaki Tuhan Yesus. Maka pintu kamarnya yang sunyi sempit itu pun terbuka bagi siapa saja. Orang-orang yang susah, yang sakit, dan yang miskin, datang kepadanya. Dan Dewi Dukacita ……..melupakan duka derita sengsaranya sendiri. Maka sambil tersenyum manis didengarkannya keluh kesah serta ratap tangis mereka. Hiburannya yang lembut, kata-kata dan nasihat Dewi Dukacita yang menyentuh membuat mereka-mereka sepulang dari ruang kamarnya bangkit kembali harapannya dan berani menghadapi kehidupan ini. Lebih-lebih bagi para miskin, mereka bersuka-ria bila pulang, karena derma dari Lidwina dapat mencukupi kebutuhan mereka. Pundi-pundinya yang hanya berisi mata-uang yang sedikit itu, ternyata tak pula berkurang bila diambilnya.

Demikianlah justru dalam duka-deritanya itu rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan : ” Wajah-Mu, ya Tuhan, aku cari” (Mzm 27 : 8 ) terpenuhi. Dengan sujud-sembah mata-hati Lidwina memandang Wajah Dukacita Sang Putera Allah yang Tergantung di Kayu Salib dan berseru nyaring menyerahkan nyawa : ” Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kusrahkan nyawa-Ku !” Untuk mengembalikan manusia kepada wajah Bapa, Tuhan Yesus tidak saja harus mengenakan wajah manusia, namun juga harus membebani Diri dengan ” wajah manusia berdosa” juga. ” Dia yang tak mengenal dosa telah dibuatnya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor 5 : 21) : suatu misteri yang paling paradoksal. Itulah sebabnya Lidwina, Dewi Dukacita, bersedia ambil bagian dalam duka derita Tuhan-nya dengan mempersembahkan duka derita sakitnya sendiri sebagai silih bagi dosa-dosa manusia pada zamannya. Rekaman rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan inilah yang kini menghiasi Pintu Gerbang Gereja Stasi Santa Lidwina dalam bentuk candrasengkala : Mangesthi (8) Wruh (3) Wadana (9) Gusti (1) yang bermaknakan Tahun 1938 AJ (Anno Javanico : Tahun Jawa) sebagai suatu isyarat bahwa tujuan eskatologis peziarahan umat beriman (Gereja) adalah pulang ke rumah Bapa di Surga.

Keajaiban kehidupan Lidwina nampak semakin nyata. Makan dan minumnya yang hanya sedikit itu saja senantiasa muntah kembali. Namun Hosti Kudus tetap dapat disantapnya dengan mudah. Beberapa tahun terakhir Lidwina sama sekali tak makan dan tak minum lagi, kecuali menyantap Sakramen Mahakudus yang memberikan kekuatan ” daya hidup dalam menyandang duka-deritanya”. Lagi pula, ia memohon untuk : ” mati terlerai” : mati dalam damai.

Permohonan dan harapan Lidwina itu terpenuhi, sesudah ia sakit 38 tahun, pada tanggal 14 April tahun 1433. Hari itu adalah Hari Minggu Paskah Ketiga: Suatu angka-angka simbolik yang penuh misteri. Lama sakit 38 tahun mengingatkan kita akan penyembuhan Tuhan Yesus kepada orang yang sudah 38 tahun lamanya sakit di Kolam Betesda dekat Pintu Gerbang Domba di Yerusalem (Yoh 5: 6). Tanggal 14 April itu bertepatan dengan Hari Minggu Paskah Ketiga, Minggu Panggilan. Angka 33 mengingatkan lama tahun hidup dan usia wafat Tuhan Yesus sendiri (Bdk dengan usia 33 hari Paus Yohanes Paulus I : RH 2 : 7). Pada tanggal 14 April hari Minggu Paskah Ketiga : pada hari Minggu Panggilan, tatkala Lidwina tinggal di kamarnya seorang diri , tiba-tiba terdengarlah Sabda Tuhan yang memanggilnya kembali Lidwina. Maka Dewi Dukacita pun segera mengembangkan songsong barat-nya (baju bersayap untuk terbang) untuk berangkat memenuhi panggilan Tuhan. Tak seorang yang menyaksikan. Hanya para Malaekat Allah sajalah yang berduyun-duyun berdatangan mengelilinginya. Harum sedap perlahan-lahan mengubah udara kamarnya, isyarat terjadinya suatu kegaiban.

Dengan segera pula kakaknya memasuki kamarnya. Didekatinya tempat tidur Lidwina, dibukanya kain penutupnya ! …………….. Tangannya gemetar ! Mata terbeliak dan terpesona….! Mulut bungkam : tak sepatah katapun yang keluar ! Dengan penuh kekaguman hatinya saja yang berkata : ” Puji Tuhan ! Oh, adikku Lidwina, engkau tidak mengerikan, dan tidak berbau busuk lagi ! Puji Tuhan, engkau menjadi lebih cantik lagi, …… seperti Malaekat ! Wajahmu………bercahaya-cahaya ! Kemudian berlutut …………. dan bersyukur ! Dan secepat kilat tersebarlah : Lidwina, Dewi Dukacita telah meninggal, marilah kita hormati sepantasnya.

Kini rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan (Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ) dari Dewi Dukacita : ” Wajah-Mu, ya Tuhan, aku cari !” (Mzm 27:8) terpenuhi secara sempurna. Setelah Dewi Dukacita ikut ambil-bagian dalam memanggul-salib duka-derita Tuhan-nya selama 38 tahun, maka dalam menampakkan Wajah Dia yang Bangkit Mulia sebagai Citra Wajah Putera Allah sejak kekal, Tuhan Yesus juga membawa serta juga Citra Wajah Si Gadis Jelita awalnya : Lidwina nampak kembali menjadi cantik : cahaya mulia memancar dari wajahnya. Lidwina tidak lagi memandang Wajah Tuhan melalui mata hati-nya, namun secara langsung memandang Wajah Tuhan yang telah dimuliakan. Sebab kalau tidak demikian sia-sia dan hampalah pewartaan Salib (1 Kor 1: 18) dan iman kita (1 Kor 15 : 14). Sebab dalam hidup-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya, yang sanggup menyelamatkan umat-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Dia telah didengarkan. Sekalipun Ia Putera Allah, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritanya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Tuhan Yesus Kristus menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang juga taat kepada-Nya (Ibr 5 : 7-9).

Pada tahun 1434 makam Lidwina telah menjadi tempat berziarah sebagai makam keramat. Pada tahun 1890 Bapa Suci Paus Leo XIII (20 Februari 1878 – 20 Juli 1903) berkenan memberikan gelar ”Santa”. Lima ratus tujuh puluh enam (576) tahun yang lalu saat pemanggilan-Mu atau seratus sembilan belas (119) tahun permahkotaan-Mu sebagai Santa, seakan-akan baru terjadi atau berlangsung hari ini, tanggal 14 April 2009. Dengan mengenang dan menghayati peristiwa itu kamipun, Umat Gereja Stasi Mandiri Bedog yang berlindung di bawah kesetiaan dan kesucian-Mu, ya Santa Lidwina, Santa Si Gadis Jelita, bersama Gembala kami Mgr. Ignasius Suharyo, Uskup Agung Semarang dan bersama-Mu pula sedang memandang dan akan senantiasa mengarahkan pandangan kami kepada Wajah Kristus yang Bangkit Mulia, Mempelai-Mu, dengan segala khazanah kekayaan dan kegembiraan-Nya : ”Dulcis Iesus memoria, dans vera cordis gaudia !”, Manislah kenangan Yesus, pemberi kegembiraan hati yang sejati : memang manislah mengenang Yesus, sebab Dialah sumber kegembiraan hati yang sejati. Sesuai dengan Tahun Paulus dan Tahun Kaum Muda 2009 kamipun bertekad mengikuti jejak-ulah pertobatan Santo Paulus yang dijumpai Tuhan pada perjalanannya menuju kota Damsyik dan menerapkan spiritualitasnya : ” Bagiku hidup itu Kristus, dan mati itu keuntungan !” (Flp 1 : 21). Maka dengan roh ulah – pengosongan diri Santa Lidwina serta semangat ulah-pertobatan Santo Paulus dalam perziarahan kami, Umat Gereja Stasi Mandiri Santa Lidwina di Bedog bertekat untuk tetap ambil bagian dalam mewartakan Kristus kepada dunia : Dia itulah Kristus Penebus ” yang sama kemarin, sekarang dan selama-lamanya” (Ibr 13 : 8 ) dengan ditandai sengkalan (kronogram) seperti di bawah ini :

Suryasengkala: Kusuma (9) Muluk (0) Nyuwarga (0) Manembah (2); 2009 AD (Anno Domini). Artinya : Sri Kusuma (Wanita Mulia) Naik (ke) Surga (untuk) Bersembah

Candrasengkala: Manembah (2) Dadya (4) Trusthaning (9) Gusti (1): 1942 AJ (Anno Javanico). Artinya : Bersembah Menjadikan Kegembiraan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Bratakesawa, R. (1980 ).Keterangan Candrasengkala. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Murni, E. (1979). Santa Lidwina Dewi Dukacita. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Yohanes Paulus II, Paus. ( 1979 ). Redemptoris Hominis. Jakarta: KWI
_________________. (2007 ). Novo Millenio Ineunte. Jakarta:

Paroki HSP Maria Tak Bercela Kumetiran memiliki sejarah yang cukup panjang dan terkait erat dengan usaha misi dan situasi politik pada waktu itu. Pada tahun 1922, Rm Frans Strater SJ, seorang pim­pinan Jesuit di Yogyakarta mencoba mengembangkan kerasulan pewartaan dan menanamkan ajaran Gereja Katolik di wilayah Yogya­karta. Tujuannya agar Kerajaan Allah dapat dikenal, diketahui dan dirasakan oleh masyarakat. Ia setiap hari mengadakan kunjungan ke pedesaan-pedesaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ia mem­bangun kapel untuk pelayanan rohani. Ia juga mendirikan beberapa sekolahan termasuk di antaranya Sekolah Guru Agama. Untuk men­dukung pendidikan tersebut, Rm. Frans Strater SJ juga mendirikan As­rama khusus bagi siswa-siswi SGA.Atas bantuan KRT Harjokusuma, seorang Bupati yang kemudian menjadi Patih KPH Danurejo VIII, Rm. Frans Strater mendapat sebi­dang tanah seluas 5.400 m2 lengkap dengan sebuah bangunan rumah yang berbentuk tiga joglo milik Bpk. Raden Penewu Karto Kaskoyo (seorang perangkat kraton) yang terletak di tengah-tengah kampung Pringgokusuman. Karena seorang asing, Rm Strater tidak boleh memiliki tanah, maka sertipikat tanah tersebut kemudian diatas na­makan Rama Djoyoseputro SJ.

Pada tahun 1939, tempat dan bangunan tersebut menjadi asrama calon Guru Agama. Namun fungsi itu tidak berlangsung lama sebab pada tahun 1942 di Yogyakarta kedatangan tentara Dai Nippon. Mereka menangkap dan menginternir orang-orang Eropa dan meram­pas semua bangunan yang dikuasai oleh orang-orang Eropa tersebut. Seminari dan Gereja Kotabaru pun tak lepas dari pendudukan Jepang. Tempat-tempat itu dijadikan gedung pemerintahan dan gudang per­bekalan sehingga peribadatan tidak mungkin diadakan di Gereja Ko­tabaru apalagi para gembala juga ditangkap dan dilarang mengajar agama. Akibat dari penangkapan dan pelarangan pengajaran agama tersebut, asrama SGA tidak berfungsi lagi karena tidak ada siswa yang belajar. Pada tahun 1943, asrama SGA tutup.

Bagaikan ada benih tumbuh di atas tanah yang tandus, demikianlah yang terjadi dengan keadaan Gereja. Setelah para gem­bala ditangkap oleh tentara Jepang, muncul tokoh-tokoh awam katolik yang mengambil alih kegiatan gerejani. Mereka memberikan pelajaran agama di rumah-rumah, mempersiapkan orang untuk menerima bap­tisan dan menyelenggarakan ibadat sabda. Usaha ini terus berkem­bang, sampai akhirnya Bruder Endrodarsono SJ yang waktu itu meng­urus asrama Calon Guru Agama menawarkan agar asramanya itu digunakan untuk melaksanakan kegiatan Gerejani, sebagai pengganti Gereja Kotabaru yang dikuasai oleh Jepang.

Pada tanggal 13 Agustus 1944, untuk pertama kalinya di asrama Calon Guru Agama itu diadakan perayaan Ekaristi oleh Rm B. Su­marno SJ dari Paroki Bintaran. Sejak saat itulah secara rutin asrama SGA itu menjadi tempat beribadat. Atas peran serta kaum awam kato­lik dan ketekunan Bruder Endro dalam mengajar agama, membimbing anak-anak muda, perkembangan umat semakin meningkat.

Kemudian ada peristiwa yang menggembirakan untuk masyarakat Indonesia, khususnya juga umat katolik Yogyakarta. Tentara Jepang ditarik kembali ke negaranya karena kota Hirosima dan Nagasaki di­jatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Mereka mengembalikan kepada para pemiliknya semua gedung yang dikuasainya, termasuk diantaranya Gereja Kotabaru. Maka dengan diserahkannya Gereja Kotabaru, Gereja ini dapat difungsikan kembali untuk peribadatan, umat Kotabaru yang selama mengungsi ke Kumetiran untuk meng­ikuti peribadatan.

Sebagian besar umat memang kembali ke Kotabaru, tetapi umat di sekitar Kumetiran atau umat di bagian barat Jalan Malioboro tetap menginginkan beribadat di Gereja Kampung bekas asrama SGA itu. Karena banyaknya umat yang tetap bertahan dan kemandirian umat di Gereja Kampung Kumetiran, maka sejak tanggal 31 Desember 1945, secara administratif Gereja Kampung Kumetiran tidak lagi dilayani oleh Gereja Kotabaru dan kemudian ditetapkan sebagai Paroki mandiri dengan nama Pelindung Hati Santa Perawan Maria Tak Ber­cela.

Sejak tahun berdirinya, yakni tahun 1944 sampai tahun 2005 ini, telah puluhan imam berkarya di Paroki Kumetiran secara silih ber­ganti. Masing-masing imam itu memberi warna dan perannya sendiri untuk kehidupan umat paroki Kumetiran. Rm. Aleksander Sandiwan Broto Pr (1950-1959) mulai menata kehidupan paroki. Pada tanggal 8 Desember 1950 Rm A. Sandiwan membentuk Yayasan Gereja dan Ke­miskinan (sekarang Pengurus Gereja dan Papa Miskin) untuk meng­urus harta benda paroki baik yang bergerak maupun tak bergerak. Pada tanggal 11 Maret 1951, ia membentuk Pengurus Paroki untuk pertama kalinya. Semula Pengurus Paroki itu hanya terdiri dari Peng­urus Harian saja, baru dalam perjalanan waktu ada pembenahan dan penyempurnaan. Tahun 1952, Rm Sandiwan mulai membenahi wilayah teritorial Kumetiran. Ia membagi Gereja Kumetiran dalam 8 kring dan satu stasi Gamping (sekarang telah berdiri menjadi paroki sendiri).

Mengingat perkembangan umat semakin meningkat dan gereja ti­dak bisa menampung umat, maka Rm Sandiwan mengajukan ijin un­tuk membangun gedung gereja baru kepada Rm Kanjeng A. Soegijo­pranoto SJ saat ada Krisma di Kumetiran tanggal 25 Mei 1952. Rm Kanjeng mengijinkan bahkan hendak membantunya. Pembangunan gereja itu terealisasi pada tanggal 30 Desember 1955 dan diber­kati/diresmikan pada tanggal 16 Februari 1958 oleh Rm Kanjeng sendiri. Setelah selesai pembangunan gedung gereja, Rm Sandiwan merenovasi gereja tiga joglo menjadi panti paroki untuk kepentingan pelayanan non sakramental. Sungguh besar jasa Rm Sandiwan bagi umat Kumetiran, terutama untuk mengusahakan kemandirian paroki.

Lain dengan Rm Sandiwan, Rm E Hardjowardoyo (1959) yang waktu itu menjadi pastor pembantunya memberi perhatian pada pa­duan suara paroki. Ia membentuk paduan suara paroki, semula ada dua kelompok yakni kelompok koor putra yang diberi nama Paduan Suara Gregorius dan koor putri dengan nama Paduan Suara Caecilia. Dalam perjalanan waktu kedua kelompok koor tersebut disatukan menjadi Paduan Suara Gregorius Caesilia (atau lebih dikenal GC).

Dari waktu ke waktu, Paroki Kumetiran semakin tertata. Rm. B. Liem Bian Bing SJ (1961-1970) menata kembali Dewan Paroki Kumetir­an. Ia bersama Dewan Paroki membuat Garis-Garis Besar Haluan Paroki dengan prioritas perhatian pada keterlibatan umat di bidang liturgi, pewartaan, persekutuan dan sosial. Dalam bidang sosial, ia mendirikan Poliklinik Darma Bhakti untuk pelayanan kepada masyarakat umum. Dan dalam bidang pewartaan, ia mengadakan kunjungan ke kring-kring. Kunjungan ini tidak hanya meneguhkan kehidupan kring tetapi juga mempengaruhi perkembangan umat se­cara kwantitatif.

Kegiatan kunjungan ke kring dan keluarga ini dilanjutkan oleh Rm Joannes Reijnders (1973-1979). Dengan sepeda simpleknya, ia rajin pergi ke kring-kring. Tidak hanya mengunjungi keluarga, tetapi Rm Reijnders juga melatih koor di tingkat kring. Maka wajar kalau pada masa Rama Rejnders, koor dari tingkat kring sampai paroki menjadi sangat hidup dan bersaing antar kring. Di tingkat kring, Rm Reijnders juga mengadakan misa kring. Saat misa di Kring Kentheng, yang waktu itu meliputi Kentheng, Nusupan dan Bedog, muncul suatu ide untuk mendirikan kapel. Akhirnya didapat sebidang tanah dibulak Ngeban, seluas 455 m2 milik Kas Desa Nusupan. Di tempat itulah didirikan kapel dengan nama Kapel Santa Lidwina. Pada tahun 1980, pembangunan kapel telah selesai dan diberkati oleh Rm R. Mardisu­wignya Pr (1978-1980) yang meneruskan karya Rm Reijnders yang telah pindah ke Solo. Perhatian Rm Mardisuwignya adalah kaum muda, khususnya pendampingan mereka untuk persiapan perkawin­an.

Rm. Mardisuwignya kemudian diganti oleh Rm. Evaristus Rus­giarto Pr (1980-1984). Perhatian Rm Rusgiarto pada bidang pewartaan dan liturgi. Ia membenahi pendampingan para katekumenat. Para katekumenat diajar secara intensif, kemudian mereka diuji untuk ke­layakan menerima baptisan. Dalam baptisan bayi, ia menuntut para orang tua untuk mengikuti rekoleksi sebagai persiapan membaptiskan putra-putrinya. Tujuan rekoleksi itu adalah agar para orang tua tahu makna baptisan anak-anaknya dan menyadari tanggungjawabnya untuk mendampingi perkembangan iman anak-anak mereka. Dalam bidang liturgi, Rama Rusgiarto mencoba membuat dramatisasi untuk menggantikan homili, menampilkan sendratari dalam perayaan ekaristi dan menggunakan gamelan sebagai iringan alternatif perayaan ekaristi. Usaha Rama Rusgiarto ini sungguh mewarnai ke­hidupan paroki Kumetiran, terutama menjadikan perayaan ekaristi semakin hidup dan sakramen semakin dihayati.

Melalui pendampingan para gembala dengan segala bentuknya itu, umat Kumetiran semakin bertambah banyak. Namun keadaan ini be­lum memuaskan Rm Johanes Hadiwikarto Pr (1986-1989) yang berkarya sesudahnya. Rama Hadiwikarto justru menghendaki agar perkembangan umat secara kwantitatif harus dibarengi dengan pe­ningkatan mutu dan kwalitas hidup iman. Salah satu kwalitas hidup iman adalah kalau mereka mempunyai perhatian juga pada mereka yang kekurangan dan bisa menjadi garam bagi masyarakat. Ia ke­mudian mendirikan dana sehat untuk pelayanan kesehatan masyara­kat. Ia juga mengajak para awam yang bekerja dalam kepengurusan tingkat RT/RW untuk melaksanakan tugas itu sebagai panggilan pe­layanan masyarakat mewujudkan tugas Kristus menjadi garam dan terang dunia.

Devosinya yang kuat kepada Maria menjadi inspirasi umat untuk menempatkan Maria di tengah kehidupannya. Maria tidak hanya di­jadikan sebagai pelindung paroki, tetapi juga menjadi pelindung hidup beriman. Untuk itulah kemudian didirikan Gua Maria untuk mewujudkan kedekatannya dengan Maria dalam bentuk doa dan keteladanan.

Setelah Rama Hadiwikarto, silih berganti imam yang berkarya di Kumetiran. Tetapi yang patut dicatat adalah kehadiran Rm Gabriel Alimo Notobudyo Pr (1995-sekarang). Banyak karya baik fisik mau­pun non fisik yang diwujudkannya. Secara fisik, bersama Panitia Pem­bangunan ia membebaskan tanah di Jalan Kumetiran 13, 15, 17 dan memulai pembangunan fisik, mulai dari pembangunan Gedung Pas­toran, Gedung Gereja dan akhirnya Kapel Bedog dan Panti Paroki. Gedung Gereja diberkati oleh Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo Pr dan diresmikan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 8 Desember 2001.

Secara non fisik, Rm. Notobudyo memberi perhatian terhadap pewartaan Kitab Suci. Ia mengatakan bahwa sebagai orang katolik ha­rus mengenal Kitab Suci. Orang tidak mungkin kenal Kristus kalau ti­dak membaca kitab suci. Untuk itulah ia mengadakan kursus Kitab Suci dan sekolah penginjilan kepada semua umat yang berminat. Tu­juan dari kursus itu adalah agar umat selain memiliki semangat penginjilan, juga memiliki pengetahuan yang cukup akan Kitab Suci sehingga bisa mewartakan secara benar dan memadai.

Dengan demikian semakin sempurnalah kehidupan umat paroki Kumetiran. Secara fisik, tempat untuk beribadat dan pelayanan pas­toral sudah memadahi dan secara non fisik, macam-macam pen­dampingan iman umat telah tertata rapi. Tugasnya sekarang adalah menjaga, merawat dan mengusahakan agar umat semakin terdam­pingi imannya sehingga semakin gembira dalam mengikuti Yesus Kristus mewartakan kabar gembira dan semakin erat bersatu dalam membangun paguyuban-paguyuban yang berpengharapan.

Catatan:

Tulisan ini diambil dari http://parokikumetiran.wordpress.com persis seperti tulisan aslinya dan tidak dilakukan perubahan. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari dokumentasi yang lengkap disimpan di blog ini. Informasi diambil karena jelas terkait dengan eksistensi stasi Bedog, supaya menambah jelas pemahaman yang dibangun di kalangan umat stasi Bedog. Matur Nuwun kepada admin Parokikumetiran, yang telah menyediakan bahan ini, sebagai penambah wawasan umat stasi Bedog.

Posted by: santalidwina | April 18, 2009

Perayaan Pesta Nama Bersama Uskup Agung Mgr. I. Suharyo

Adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi kami umat Katolik di stasi Bedog, sebab dalam pesta nama santa pelindung Romo Uskup Agung Mgr. Ign. Suharyo berkenan hadir dan memimpin Misa Kudus. Kami merasakan kedekatan yang hangat dengan beliau, sehingga sangat membantu dan mendorong seluruh umat untuk menghayati spiritualitas Santa Lidwina. Matur nuwun atas kebaikan hati Romo.

Barangkali sebagian umat kaget ketika Romo Uskup Agung menjelaskan bahwa Santa Lidwina sebenarnya belum diresmikan menjadi orang kudus oleh hirarki gereja Katolik. Romo Sanjaya yang dimakamkan di Muntilan juga demikian, sebab proses pengangkatan menjadi orang kudus memang sangat sulit. Hebatnya, beliau menjelaskan juga bahwa Santa Lidwina justru diangkat menjadi orang kudus oleh orang-orang yang mengetahui dan meyakini kesucian hidupnya.

Homili Romo Uskup Agung yang mengangkat tentang riwayat Santa Lidwina dan Hidup Berciri Ekaristi sangat membantu umat semakin meyakini kesucian Santa Lidwina. Umat semakin yakin Santa Lidwina memang sangat tepat untuk diteladani. Kita tahu bahwa Santa Lidwina sangat meyakini hidup manusia sangat tergantung pada Ekaristi dan Salib Kristus, maka devosi kepadanya adalah hidup yang merangkul Kristus. Santa Lidwina meyakini bahwa itulah satu-satunya jalan untuk mencapai kesucian dan dekat dengan Bapa.

Hidup Santa Lidwina bagaikan Ekaristi, yang diambil (dipilih), diberkati, dipecah-pecah kemudian dibagi-bagikan oleh Tuhan kepada orang lain agar memperoleh hidup dan keselamatan. Artinya, hidupnya menjadi berkah bagi semakin banyak orang. Itulah pesan inti yang disampaikan Romo Uskup Agung dalam homili. Umat stasi Bedog diajak untuk meneladan hidup Santa Lidwina yang berciri Ekaristi itu !

Usai Misa Kudus panitia menggelar pesta umat di lantai bawah gedung gereja. Suasananya meriah dan akrab. Sebelum pesta dimulai dilakukan grand launching tentang blog Santa Lidwina yang dilandasi pemikiran bahwa sudah saatnya kita mengembangkan iman melalui sarana-sarana tradisional dan dibantu teknologi canggih.

Blog ini diharapkan dapat menjadi jembatan hati bagi semua warga stasi Santa Lidwina maupun dengan umat Katolik seluruh dunia. Di dalam blog akan dimuat berbagai informasi lokal di stasi Santa Lidwina, baik tentang masa lalu maupun yang aktual. Semuanya itu diharapkan dapat menjadi obor penerang bagi generasi kemudian tentang bagaimana iman Katolik bertumbuh dan berkembang di Stasi Santa Lidwina.

Djarot Purbadi

Posted by: santalidwina | April 17, 2009

Ring-Road dan Rong-Rit

Wilayah Stasi Bedog dilalui oleh Ring-Road tempat kendaraan berlalu-lalang yang antara lain mengangkut pasir dengan hitungan: sak rit, rong rit, dst. Kendaraan itu ada juga yang mengangkut hasil petani ngerit di sawah. Kiranya ring-road dan hitungan rong-rit mewakili situasi umat stasi Bedog Paroki Kumetiran. Ring-road mewakili saudara-saudari yang pekerjaannya mobile, mudah pindah tempat yaitu yang bekerja di bidang pendidikan atau lembaga-lembaga yang karena tugasnya menuntut untuk pergi ke berbagai tempat. Sedangkan rong-rit mewakili mereka yang bekerja sebagai wiraswasta yang sering mengangkut barang dengan hitungan: sak rit, rong rit, dst. Juga mewakili mereka yang mata pencahariannya bertani yang sering ngerit panen padi di sawah yang tempat bekerjanya tidak banyak mengalami pergeseran tempat.

Namun perbedaan mereka yang diwakili ring-road dan rong-rit bukan menjadi alasan untuk menunjukkan perbedaan sosial ekonomi dan gengsi seseorang, melainkan sebaliknya mereka semakin saling melengkapi dalam membangun paguyuban di Bedog. Mereka saling memperkaya iman berdasar pengalaman hidup dan pekerjaan yang berbeda. Hal ini kentara pada saat tugas-tugas di gereja (koor, prodiakon, lektor, dsb) dan berbagai pertemuan yang lain. Paguyuban ring-road dan rong-rit nampak juga dalam proses pembangunan gedung gereja Bedog yang sekarang berdiri dengan apik. Pada saat proses membangun gedung tersebut, atribut-atribut pekerjaan mereka di masayarakat tidak nampak. Yang nampak adalah kebersamaan membangun gereja. Mereka lebur menjadi satu sebagai murid-murid Yesus Kristus yang guyub. Bakat dan kemampuan yang ada pada umat ditampilkan bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk membangun gereja sehingga Gereja Bedog menjadi hidup dan semakin hidup.

Dari mana semangat guyub yang rendah hati itu mereka peroleh? Tentu dari Yesus Kristus dan Santa Lidwina pelindung Gereja Bedog. Santa Lidwina adalah seorang perempuan yang cantik-rupawan. Suatu ketika ia jatuh sakit. Dalam menanggung rasa sakitnya itu ia mendapat penampakan Illahi yang menyatakan bahwa ia akan sembuh. Namun sebelum sembuh ia mendapat tawaran, nanti setelah sembuh ia pengin tetap punya wajah cantik atau tidak. Ternyata Lidwina memilih wajah jelek atau buruk. Mengapa ia memilih itu? Karena dengan wajah yang cantik ia akan banyak dikagumi sehingga muncul bahaya kesombongan, sedangkan dengan wajah yang buruk ia akan belajar untuk rendah hati karena banyak orang tidak akan mengaguminya. Jadi Lidwina tidak gila pujian melainkan rendah hati.

Semangat hidup Lidwina yang rendah hati itulah yang ada dan harus dihadirkan pada umat di Stasi Bedog. Dengan semangat itu pasti akan menyuburkan paguyuban untuk mengisi karya-karya baik dalam lingkungan, stasi maupun di masyarakat. Lidwina yang tetap bahagia walaupun tidak berwajah cantik kiranya dapat menyemangati kaum muda di Bedog bahwa di dalam Tuhan dan terlibat di Gereja akan tetap membahagiakan. Kegembiraan tidak terletak pada wajah yang cantik atau ganteng melainkan pada semangat saling menerima dan mendukung. Begitu banyak bakat kemampuan kaum muda di Bedog kiranya menjadi faktor pendukung untuk tetap krasan sebagai murid-murid Kristus.

Ndherek bingah, sugeng pesta.

G.Awan Widyaka, Pr

Catatan: Romo Awan adalah salah satu gembala di stasi Bedog. Dalam Misa Kudus kemarin beliau hadir dan kehadirannya sangat menyejukkan hati kalangan umat stasi Bedog. Saya selalu ingat Romo Awan, yang bangga karena namanya di sebut 3 kali di dalam kitab suci. Matur nuwun nggih Romo, semoga selalu sehat dan sukses bekerja di ladang Tuhan !

Posted by: santalidwina | April 17, 2009

Proses Terciptanya Lagu Santa Lidwina

Oleh: NILA F. NINO

Pada suatu hari di th. 2006, ketika saya ditanya oleh bapak Saya (Bp. FX. Djoko Soedibyo) “apakah bisa nembuat lagu untuk Gereja St. Lidwina?”, saya tidak bisa langsung aenjawabnya. Tapi jujur pertanyaan itu sangat nengusik hati saya. Inilah awal dari proses adanya lagu St. Lidwina. Lagu yang kemudian secara khusus saya buat bagi Gereja St. Lidwina Bedog. Gereja Stasi di wilayah Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela (HSPMTB) Kumetiran Yogyakarta.

Entah berapa bulan pertanyaan itu saya biarkan tanpa jawaban. Berulang kali sudah saya membaca kisah St. Lidwina dari buku Ensiklopedi Orang-Orang Kudus, Sahabat-Sahabat Yesus, dan juga lembaran Doa Kepada St. Lidwina, tapi tetap saja belum bi­sa memperoleh gambaran akan bentuk dan isi lagu yang ingin saya buat. Baru ketika bapak kembali menanyakan hal yang sama di awal th. 2007, saya semacam punya greget untuk memberikan jawabannya.

Berbekal talenta yang Tuhan anugerahkan pada saya, dan pengetahuan temtang musik yang saya tahu dan bisa saya mainkan, serta pengalaman beberapa kali mengikuti Lomba Cipta Lagu Gereja/Rohani plus membuat beberapa Lagu Mars di masa muda, saya kemudian mencoba memberanikan diri membuat lagu itu.

Sampai akhirnya suatu hari, tanpa saya sadari dalam waktu tidak lebih dari 1 jam, baris-baris nada dan syair mengalir begitu saja hingga membentuk satu lagu utuh. Puji Tuhan. Hanya karena KasihNya, akhirnya Lagu “St Lidwina” tercipta. Ini bukan lagu pertama yang saya buat. Tapi lagu rohani yang ke 43. Semata-mata karena Rahmat Tuhan. Itu terjadi tanggal 19 Januari 2007.

Beberapa hari kemudian, lewat bapak saya lagu diserahkan kepada Bapak B. Sumardiyanto selaku Wakil Ketua Dewan Stasi (yang menbidangi Liturgi dan Pewartaan) dan Bapak FX. Mukarto Ketua Bidang Liturgi serta Ibu FX. Subroto Ketua Tim Koor. Saat itu, Bapak Mukarto langsung memberikan dukungan dan tanggapan positif.

Beberapa bulan kemudian, kepada Bapak Y. Bambang Purwanto selaku Ketua Dewan Stasi, saya minta ijin untuk memperkenalkan lagu itu di Gereja saat Lingkungan St Fransiskus Xaverius Nogotirto IV dan dibantu lingkungan-lingkungan lain Wilayah Nogotirto tugas koor dengan pelatih Ibu Subroto yang sebelumnya sempat mengoreksi 1 nada untuk diganti. Lagu itu ternyata banyak mendapat sambutan dan tanggapan po­sitif dari umat. Bahkan beberapa Bapak dan Ibu mengatakan bahwa lagu itu indah (?) dan mudah dinyanyikan.

Romo KE. Prier, SJ yang saya kenal sebagai pakar Musik Liturgi/Gereja di negara ini, yang kebetulan memimpin Perayaan Misa pada hari itu (Minggu, 30 Sept 2007), bahkan berkenan memberikan masukan, koreksi dan sentuhan akhir dengan mengganti 4 nada dari keseluruhan nada yang ada pada lagu itu.

Lagu inipun sudah pernah dibawa dan diperkenalkan kepada Pastor-Pastor Paroki Kumetiran dan beliau-beliau menyambut baik.

Tahun berikutnya, tepat pada Perayaan Pesta Nama St. Lidwina tanggal 14 April 2008, lagu ini kembali dinyanyikan dengan meriah dibawah pimpinan Ibu Subroto yang juga sebagai pelatih dan dirigent anggota koor Bapak Ibu Stasi. Saat itu Misa Kudus Pesta Nama dipimpin oleh Rm. Subali Pr, dan pemotongan tumpeng dilakukan oleh Rm. G. Natabudya Pr, Pastor Kepala Paroki Kumetiran Yogya. Sepengetahuan saya, itu pertama kalinya dalam sejarah Gereja Stasi Bedog merayakan Pesta Nama Santa Pelindungnya.

Semoga Lidwina sang Santa Pelindung senantiasa menjadi teladan dan inspirasi bagi siapapun umat yang ingin menimba kesucian hati dan mengandalkan Ekaristi Suci sebagai kekuatan jiwa dan raganya.

Ucapan terimakasih saya sarapaikan kepada semua pihak dan pribadi yang telah memberikan inspirasi dan motivasi pada saya, dan yang juga telah terlibat dalam bentuk apapun dengan terciptanya lagu ini. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada siapa saja yang telah dengan tulus mengapresiasi lagu St Lidwina ini. TUHAN Memberkati.

Nogotirto, 14 April 2009

Disusun oleh: Nila F Nino.

Umat Lingkungan St. Fransiskus Xaverius; Stasi St. Lidwina Bedog; Paroki HSPMTB Kumetiran Yogyakarta.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories