Oleh : Eliza Dali Mustika
Pendahuluan
Kalau Anda melewati Jalan Jambon di Bedog yang menuju ke arah Jalan Ring Road Kota Yogyakarta bagian Barat, akan nampak bagi Anda di sisi utara jalan, adanya sebuah bangunan Gereja. Seperti Anda lihat, bentuk bangunan Gereja itu seturut arah jalan menghadap Barat, ramping memanjang menjulang tinggi bersambung dengan bangunan Kapel Lama yang kini berfungsi sebagai Panti Stasi. Gereja yang masih berstatus Stasi itu dipersembahkan kepada Santa Lidwina yang dipilih sebagai Santa Pelindungnya, dan karenanya dinamakan Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog.
Bangunan Gereja itu terdiri dua tingkat. Pertama, tingkat bawah atau dasar (basement), yang bersifat multifungsi : seperti untuk upacara dan prosesi Minggu Palem, untuk pesta umat, lomba, dan pada kesehariannya dipergunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Secara simbolik religius bangunan tingkat dasar (basement) ini sebagai lambang peziarahan umat beriman (Gereja) di dunia ini : untuk ber-ulah-tapa dengan laku pentobatan dan percaya kepada Injil (Mrk 1 : 15), agar menjadi lebih pantas ikut serta merayakan Ekaristi dan rahmat Penebusan, dan dari situ dapat menemukan dan menerima ” pancaran daya hidup dan kekudusan” (RH 7:18). Kedua, ialah Bangunan Gereja itu sendiri, yang menghadap ke Barat dan berdiri megah di atas bangunan dasarnya (basement). Secara simbolik religius Bangunan Gereja Stasi Santa Lidwina ini sebagai lambang Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah atau Rumah Bapa, yang menjadi arah dan tujuan kepulangan peziarahan umat beriman (Gereja) tertebus , untuk bersama-sama Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Orang-Orang Kudus menghadap Bapa, untuk bersyukur serta memuji dan memuliakan-Nya, serta ikut-ambil-bagian dalam perayaan Ekaristi-Abadi, Pesta Cinta-Kasih Kekal, berkat kemenangan Putera Tunggal Bapa dalam merebut hati umat manusia.
Sebagai tanda syukur unik atas rahmat-karunia Allah dengan berdirinya Gereja Stasi Santa Lidwina pada tahun 2005 AD (Anno Domini : Tahun Tuhan, Tahun Masehi atau Messias) yang bertepatan pula dengan tahun 1938 AJ Anno Javanico : Tahun Jawa), maka dikenanglah peristiwa penting tersebut dalam bentuk dua sengkalan (kronogram). Dengan sengkala (n) atau kronogram (chrono : angka tarich / tahun dan gram dari graphein : tulis, menulis) dimaksudkan sebagai suatu kalimat atau rangkaian kata-kata (dalam bahasa Jawa) yang masing-masing kata mengandung makna nilai angka tahun. Cara membacanyapun harus dari kanan ke kiri atau dari belakang ke depan, dan bukannya dari kiri ke kanan atau dari depan ke belakang. Tahun sengkalan (kronogram) yang berdasarkan peredaran matahari (surya), tahun Masehi misalnya, disebut suryasengkala, sedang tahun sengkalan yang berdasarkan peredaran bulan (candra), tahun Jawa misalnya, disebut candrasengkala. Dimanakah letak kedua sengkalan, baik suryasengkala dan candrasengkala di Gereja Stasi Santa Lidwina tersebut ? Keduanya tertulis di atas Pintu Gerbang.
Pertama, kalau akan memasuki basement, Anda amatilah, di atas Pintu Gerbang terpampang suryasengkala yang berbunyi : Manah Suci Luhuring Rerenggan, 2005 AD. Artinya : Hati Suci Termulianya Perhiasan, 2005 AD. Dan kedua, apabila Anda akan memasuki Gereja, silakan amati pula di atas Pintu Gerbang yang menghadap Barat dan Anda akan dapat membaca candrasengkala yang berbunyi : Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ. Artinya : Rindu Memandang Wajah Tuhan, 1938 AJ. Sekarang silakan, ungkap serta terapkan nilai-nilai angka tahun yang berada di belakang sengkalan tersebut pada kalimat sengkalan sesuai dengan petunjuk di atas ! Dan mengapa pula kedua sengkalan (kronogram) tersebut pantas dipersembahkan kepada Santa Lidwina ?? Marilah bersama kita kontemplasikan relasinya dengan kekudusan Santa Lidwina, serta apa pula maknanya bagi ulah-tapa pertobatan kita ?
Manah Suci Luhuring Rerenggan, 2005 AD: Menuntut Pengosongan Diri
Letak Gereja Stasi Bedog yang dikitari dusun dan persawahan sungguh tepat untuk mengilustrasikan dan mendeskripsikan pola kesederhanaan hidup gadis dusun Santa Pelindungnya, Santa Lidwina, yang amat cantik itu. Lidwina (1380-1433) lahir di Negeri Belanda. Ia adalah putri dari keluarga petani yang sederhana pula, Ibu dan Bapak Peter. Pakaian Lidwina senantiasa sederhana, tanpa suatu dandanan. Rambutnya lebat, panjang dan terurai di punggungnya. Kulitnya halus kemerah-merahan semerah buah appel. Matanya putih kebiru-biruan bagaikan memancarkan kebersihan dan kemurnian hatinya. Lagi pula bagi Lidwina, kesucian hati sebagai hiasan jiwa yang termulia jauh-jauh lebih berharga daripada harta dan kecantikan rupa serta keelokan tubuh. Baginya hanya Yesus dan Maria sajalah yang menjadi harta terbesar dan termulia. Sungguh suatu sikap dan nilai yang melebihi dari yang seharusnya !
Memang gadis Lidwina bukanlah seorang biarawati. Ia hanya gadis petani dusun yang sederhana. Seperti halnya di Gereja Stasi Bedog, Lidwina pun berkesempatan untuk senantiasa singgah di Gereja dusunnya (di negeri Belanda) sebelum dan sesudah bekerja di sawah-ladangnya. Di dalam persinggahan Gereja inilah senyum manis Bunda Maria serta sapa kasih Tuhan Yesus menyambutnya. Perjumpaan Lidwina dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus pun akhirnya diketahui pula oleh kedua orang tuanya, sehingga ibunya pun bertanya dalam hati : ” Betulkah kita dianugerahi Tuhan seorang anak yang suci ? Betapa bahagia kita !”
Tiada terkecuali, usia kritisnya pun harus mengguncang pula gadis remaja Lidwina. Pada usia 15 tahun kuntum bunga dusun sedang mekar-mekarnya semerbak dan mengharum, namun memaksa Lidwina harus mengulum senyum. Dia merasa jemu dan kesal hatinya dengan segala pujian yang kian hari kian berlebihan serta terus berdenging di telinganya.
Peter, bapa-nya pun tak mau berunding dengan segala macam lamaran dari para bangsawan dan hartawan. Namun akhirnya terbujuk pula. Dipanggilnya Lidwina serta disampaikannya permintaan para bangsawan dan hartawan tersebut. Lidwina gemetar, wajahnya menjadi pucat, kemudian merah padam. Air matanya bercucuran. Sambil memeluk bapanya seakan-akan meminta perlindungannya, ia pun berkata : ” Bapa, ampun, ya Bapa, biarlah aku tetap tinggal di rumah bapa seumur hidupku !” Tiba-tiba Lidwina berdiri tegak, dengan raut wajah yang penuh kepastian dan mantap berkatalah dia : ” Bila orang tak berhenti mengganggu aku, akupun akan memohon kepada Tuhan perubahan rupa, hingga jadi sejelek-jeleknya, supaya orang tak sudi lagi memandang daku !”
Sungguh suatu ungkapan pengosongan diri yang sepontan dan luar biasa ! Demi cinta-kasihnya kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus, sanggup pula Lidwina mengosongkan diri, untuk melepaskan segala kecantikan rupa serta keelokan tubuhnya, hingga menjadi sejelek-jeleknya, supaya orang tak sudi lagi memandang dirinya dengan segala mimpi dan harapan duniawinya.
Secara gaib pula seakan alam pun ikut berkejaran bertukar busana. Musim dingin pun tiba. Warna-warni pesona hiasannya ditanggalkan ! Alam pun berganti baju putih belaka. Selimut salju tebal menutupi seluruh bumi. Dataran rendah, bukit, lembah, sungai, danau ataupun kolam-kolam, seluruhya berubah menjadi hamparan luas arena air beku. Penduduk kota maupun desa kembali akan beramai-ramai menghangatkan suasana dengan ” olah raga musim dingin. ”
Beberapa gadis lengkap dengan sepatu es-nya tiba di depan rumah Lidwina dan memanggilnya : ” Lidwina, yuuuk ikut bermain !” Untuk menyenangkan teman-temannya Lidwina ikut juga. Tiada lama sampailah mereka ke padang salju. Mereka pun bergelinciran kian kemari bagaikan menari-nari. Tetapi ………tiba-tiba terdengar bunyi berdebam disertai pekik kesakitan. Semua orang menoleh ke arah bunyi itu, dan dilihatnya : Lidwina terjatuh ! Lidwina menangis tersedu-sedu tak berdaya lagi. Seorang dewasa yang tegap badannya menghampiri Lidwina, dan didukungnya diantarkan pulang. Secepat angin bertiup, tersiar pula kabar : ” Lidwina, si gadis jelita itu, jatuh di padang salju ! Mungkin pula ada yang patah tulangnya !”
Ibu, bapa, serta kakaknya terkejut benar, namun ………..menerima dan pasrah apa yang telah terjadi. Lidwina ditidurkan, segera dipanggilkan dokter ! Dokter-dokter tersohor pun tiap hari datang mengobati Lidwina, namun rasanya senantiasa gagal. Makin hari makin bertambah parah. Pahanya patah dan tak kunjung sembuh. Lukanyapun makin melebar dan mendalam. Sehari-harinya Lidwina terbaring di kamarnya yang sempit dan sepi itu. Dan akhirnya ….. si gadis jelita itu ….. rupanya menghilang dari ingatan dan kenangan mereka-mereka yang dahulu berebut dan berharap.
Dalam alunan sepi antara harapan dan kecemasan itu ………..rupanya Tuhan datang untuk mengukuhkan dan menuntaskan pengosongan dan pengingkaran diri Lidwina, agar dengan belajar rendah hati ia tidak lagi mencari kepentingan dirinya sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Flp 2 : 3 ). Antara sadar dan tidak sadar terdengarlah suara wahyu yang menyeruak dari dalam kalbunya : ” Lidwina, lupakah engkau dengan permohonanmu ? Maukah engkau membayar kesucian hati dan jiwamu dengan kecantikan tubuhmu ? Ketahuilah, Tuhan sedang memenuhi permohonanmu ! Jika engkau bersedia menerima keadaan ngeri tubuhmu, kasih karunia Tuhan akan berlipat ganda memenuhi jiwamu ! Dengan rasa takut-takut-berani, Lidwina pun berbisik menjawab : ” Terserahlah ! KehendakMulah yang terjadi !”
Sejak saat itu permohonan pengosongan dan pengingkaran diri Lidwina dengan melepaskan segala kecantikan rupa dan keelokan tubuhnya dipenuhi oleh Tuhan. Ia berubah rupa menjadi sejelek-jeleknya. Lidwina, si gadis jelita, kini menjadi si gadis buruk muka. Namun, hati dan jiwanya semakin indah bercahaya-cahaya seputih salju. Mulai hari itu pula Lidwina menjelma menjadi ”Dewi Dukacita” yang mampu merasakan bahwa : teman dalam suka datang sendiri, sedang teman dalam duka sulit dicari.
Nilai dan sikap pengosongan diri bukanlah hal yang baru dalam budaya Jawa. Marilah kita renungkan bersama tiga bait (pada) 42, 43, dan 44 kidung (tembang) Pucung petikan dari Serat Wedhatama seperti di bawah ini :
Basa ngelmu, Mupakate lan panemu, Pasahe lan tapa, Yen satriya Tanah Jawi, Kuna-kuna kang ginilut triprakara. Lila lamun, Kelangan nora gegetun, Trima yen ketaman, Sakserik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing Bathara. Bathara Gung, inguger graning jejantung, Jenek Hyang Wisesa, Sana pasenedan suci, Nora kaya duraka mudhar angkara.
Artinya, yang namanya ilmu (agama, rohani), sepantasnya sesuai pertimbangan, berhasilnya dengan bertapa, Bagi ksatria Jawa, dahulu kala berpedoman dalam tiga hal. Rela apabila kehilangan dan tidak masgul (kecewa), menerima (sabar) bila mendapat sesuatu yang menyakitkan hati dari sesama, tiga : ikhlas, menyerahkan kepada Tuhan. Yang Maha Agung, bertahta dalam jantung (hati), Yang Maha Kuasa berkenan tinggal di Peristirahatan Suci, tidak seperti si jahat menuruti angkara.
Nilai dan sikap-sikap: tapa, rela (ikhlas), sabar dan menerima bila disakiti hatinya, dihina dan difitnah oleh sesama, menyesal, dan pasrah diri kepada Tuhan adalah bentuk-bentuk sikap pengosongan dan pengingkaran diri. Dengan nilai dan sikap-sikap keutamaan seperti itulah kita dapat ikut ambil bagian serta menyatukan diri dalam Salib Yesus, suatu pengosongan diri yang tuntas serta merendahkan diri dan taat sampai mati demi kasih-Nya kepada Bapa dan demi keselamatan umat manusia.
Seperti diungkapkan dalam tembang di atas, Tuhan Yesus pun sebagai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa hanya berkenan tinggal dan beristirahat di hati, jantung, dan jiwa kita yang telah kita kosongkan dari segala bentuk cita-cita duniawi yang sia-sia. Buah-buah karunia penebusan Kristus : seperti kekudusan (kesucian), kebangkitan, kemuliaan, dan kehidupan abadi menuntut dan mempersyaratkan pengosongan atau pengingkaran diri. Dalam sengkalan (kronogram) semua konsep atau kata-kata yang mengandung makna nilai-nilai luhur atau illahi seperti : suci (kudus), luhur (tinggi, agung), sonya (sepi, pertapaan), mukswa (naik ke surga bersama raganya), surud, pejah atau seda (meninggal dunia ), serta swarga (surga), dan lain-lain mengandung makna : nilai angka : 0 (nol, nihil, kosong). Itu mengisyaratkan pula bahwa untuk menggapai yang suci dan yang luhur perlu disertai dengan laku pengosongan diri. Kiranya menjadi jelas bahwa dengan menggoreskan suryasengkala sebagai terpahat di atas Pintu Gerbang Basement : Manah (5) Suci (0) Luhuring (0) Rerenggan (2) dimaksudkan di samping sebagai ungkapan syukur umat atas berdirinya Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog pada tahun 2005 AD (Anno Domini, Tahun Tuhan, Tahun Masehi), namun juga mengandung harapan, agar dengan berkat dan kasih karunia Tuhan sikap dasar spiritualitas : Hati Suci sebagai Perhiasan (Jiwa) Termulia sebagaimana telah diperjuangkan oleh Santa Lidwina, dapat menjadi sikap dasar spiritualitas umat Stasi Bedog dengan segala dinamika pergulatan pengosongan dirinya.
Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ: Kasih Karunia Kemuliaan Tuhan
Bisik perwahyuan Tuhan telah mengubah sama sekali semangat Dewi Dukacita. Seluruh hidupnya kini diperuntukkan semata-mata bagi pelayanan Tuhan. Ruang kamarnya yang sunyi sempit itu seakan meluas dan berubah menjadi ruang doa bagi umat manusia di semesta dunia. Tubuhnya yang bengkak-bengkak berbisul besar-besar serta nampak mengerikan itu, dipersembahkannya kepada Tuhan sebagai silih dosa-dosa umat manusia.
Lidwina diperbolehkan untuk menyambut Ekaristi setiap hari. Maka Lidwina pun meskipun sakit, kepalanya pening dan tangannya kaku, menyiapkan dan menyulam serta menjahit sendiri kain yang diperlukan untuk Ekaristi Kudus. Dan setiap hari pula seorang Pastor datang untuk menerimakan Tubuh Kristus. Tiap-tiap hari, karenanya, ruang sunyi yang sempit itu menjelma menjadi sebagian dari Surga, yakni pada saat Hosti Kudus datang dan menyatu dengan Dewi Dukacita ! Santapan Kudus itu bagi Dewi Dukacita menjadi penyembuh mujarab : bukan untuk kesembuhan kesehatan badannya yang kian hari kian bertambah buruk, melainkan untuk kesembuhan kekuatan jiwanya yang makin hari makin menghebat. Memang Lidwina sendiri pun tidak menghendaki dan tidak memohon kesembuhan badani, melainkan kesembuhan jiwalah yang diminta. Beberapa kali saudaranya meminta : ” Lidwina, doamu kan jitu, mohonlah kesembuhan badanmu !” Dengan senyum Dewi Dukacita pun menjawab: ” Biarpun dengan satu kali saja doa ” Salam Maria ” cukup sudah untuk menyembuhkan tubuhku yang mengerikan ini, namun aku tidak akan memintanya ! Lidwina tidak ingin sembuh lagi dari sakit yang disandangnya, asal saja kehendak Tuhan terjadi pada dirinya.
Dewi Dukacita sungguh sadar akan guna hidup di dunia ini dan apa yang menjadi tugas hidupnya sebagai dikehendaki Tuhan Yesus. Maka pintu kamarnya yang sunyi sempit itu pun terbuka bagi siapa saja. Orang-orang yang susah, yang sakit, dan yang miskin, datang kepadanya. Dan Dewi Dukacita ……..melupakan duka derita sengsaranya sendiri. Maka sambil tersenyum manis didengarkannya keluh kesah serta ratap tangis mereka. Hiburannya yang lembut, kata-kata dan nasihat Dewi Dukacita yang menyentuh membuat mereka-mereka sepulang dari ruang kamarnya bangkit kembali harapannya dan berani menghadapi kehidupan ini. Lebih-lebih bagi para miskin, mereka bersuka-ria bila pulang, karena derma dari Lidwina dapat mencukupi kebutuhan mereka. Pundi-pundinya yang hanya berisi mata-uang yang sedikit itu, ternyata tak pula berkurang bila diambilnya.
Demikianlah justru dalam duka-deritanya itu rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan : ” Wajah-Mu, ya Tuhan, aku cari” (Mzm 27 : 8 ) terpenuhi. Dengan sujud-sembah mata-hati Lidwina memandang Wajah Dukacita Sang Putera Allah yang Tergantung di Kayu Salib dan berseru nyaring menyerahkan nyawa : ” Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kusrahkan nyawa-Ku !” Untuk mengembalikan manusia kepada wajah Bapa, Tuhan Yesus tidak saja harus mengenakan wajah manusia, namun juga harus membebani Diri dengan ” wajah manusia berdosa” juga. ” Dia yang tak mengenal dosa telah dibuatnya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor 5 : 21) : suatu misteri yang paling paradoksal. Itulah sebabnya Lidwina, Dewi Dukacita, bersedia ambil bagian dalam duka derita Tuhan-nya dengan mempersembahkan duka derita sakitnya sendiri sebagai silih bagi dosa-dosa manusia pada zamannya. Rekaman rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan inilah yang kini menghiasi Pintu Gerbang Gereja Stasi Santa Lidwina dalam bentuk candrasengkala : Mangesthi (8) Wruh (3) Wadana (9) Gusti (1) yang bermaknakan Tahun 1938 AJ (Anno Javanico : Tahun Jawa) sebagai suatu isyarat bahwa tujuan eskatologis peziarahan umat beriman (Gereja) adalah pulang ke rumah Bapa di Surga.
Keajaiban kehidupan Lidwina nampak semakin nyata. Makan dan minumnya yang hanya sedikit itu saja senantiasa muntah kembali. Namun Hosti Kudus tetap dapat disantapnya dengan mudah. Beberapa tahun terakhir Lidwina sama sekali tak makan dan tak minum lagi, kecuali menyantap Sakramen Mahakudus yang memberikan kekuatan ” daya hidup dalam menyandang duka-deritanya”. Lagi pula, ia memohon untuk : ” mati terlerai” : mati dalam damai.
Permohonan dan harapan Lidwina itu terpenuhi, sesudah ia sakit 38 tahun, pada tanggal 14 April tahun 1433. Hari itu adalah Hari Minggu Paskah Ketiga: Suatu angka-angka simbolik yang penuh misteri. Lama sakit 38 tahun mengingatkan kita akan penyembuhan Tuhan Yesus kepada orang yang sudah 38 tahun lamanya sakit di Kolam Betesda dekat Pintu Gerbang Domba di Yerusalem (Yoh 5: 6). Tanggal 14 April itu bertepatan dengan Hari Minggu Paskah Ketiga, Minggu Panggilan. Angka 33 mengingatkan lama tahun hidup dan usia wafat Tuhan Yesus sendiri (Bdk dengan usia 33 hari Paus Yohanes Paulus I : RH 2 : 7). Pada tanggal 14 April hari Minggu Paskah Ketiga : pada hari Minggu Panggilan, tatkala Lidwina tinggal di kamarnya seorang diri , tiba-tiba terdengarlah Sabda Tuhan yang memanggilnya kembali Lidwina. Maka Dewi Dukacita pun segera mengembangkan songsong barat-nya (baju bersayap untuk terbang) untuk berangkat memenuhi panggilan Tuhan. Tak seorang yang menyaksikan. Hanya para Malaekat Allah sajalah yang berduyun-duyun berdatangan mengelilinginya. Harum sedap perlahan-lahan mengubah udara kamarnya, isyarat terjadinya suatu kegaiban.
Dengan segera pula kakaknya memasuki kamarnya. Didekatinya tempat tidur Lidwina, dibukanya kain penutupnya ! …………….. Tangannya gemetar ! Mata terbeliak dan terpesona….! Mulut bungkam : tak sepatah katapun yang keluar ! Dengan penuh kekaguman hatinya saja yang berkata : ” Puji Tuhan ! Oh, adikku Lidwina, engkau tidak mengerikan, dan tidak berbau busuk lagi ! Puji Tuhan, engkau menjadi lebih cantik lagi, …… seperti Malaekat ! Wajahmu………bercahaya-cahaya ! Kemudian berlutut …………. dan bersyukur ! Dan secepat kilat tersebarlah : Lidwina, Dewi Dukacita telah meninggal, marilah kita hormati sepantasnya.
Kini rasa Rindu Memandang Wajah Tuhan (Mangesthi Wruh Wadana Gusti, 1938 AJ) dari Dewi Dukacita : ” Wajah-Mu, ya Tuhan, aku cari !” (Mzm 27:8) terpenuhi secara sempurna. Setelah Dewi Dukacita ikut ambil-bagian dalam memanggul-salib duka-derita Tuhan-nya selama 38 tahun, maka dalam menampakkan Wajah Dia yang Bangkit Mulia sebagai Citra Wajah Putera Allah sejak kekal, Tuhan Yesus juga membawa serta juga Citra Wajah Si Gadis Jelita awalnya : Lidwina nampak kembali menjadi cantik : cahaya mulia memancar dari wajahnya. Lidwina tidak lagi memandang Wajah Tuhan melalui mata hati-nya, namun secara langsung memandang Wajah Tuhan yang telah dimuliakan. Sebab kalau tidak demikian sia-sia dan hampalah pewartaan Salib (1 Kor 1: 18) dan iman kita (1 Kor 15 : 14). Sebab dalam hidup-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya, yang sanggup menyelamatkan umat-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Dia telah didengarkan. Sekalipun Ia Putera Allah, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritanya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Tuhan Yesus Kristus menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang juga taat kepada-Nya (Ibr 5 : 7-9).
Pada tahun 1434 makam Lidwina telah menjadi tempat berziarah sebagai makam keramat. Pada tahun 1890 Bapa Suci Paus Leo XIII (20 Februari 1878 – 20 Juli 1903) berkenan memberikan gelar ”Santa”. Lima ratus tujuh puluh enam (576) tahun yang lalu saat pemanggilan-Mu atau seratus sembilan belas (119) tahun permahkotaan-Mu sebagai Santa, seakan-akan baru terjadi atau berlangsung hari ini, tanggal 14 April 2009. Dengan mengenang dan menghayati peristiwa itu kamipun, Umat Gereja Stasi Mandiri Bedog yang berlindung di bawah kesetiaan dan kesucian-Mu, ya Santa Lidwina, Santa Si Gadis Jelita, bersama Gembala kami Mgr. Ignasius Suharyo, Uskup Agung Semarang dan bersama-Mu pula sedang memandang dan akan senantiasa mengarahkan pandangan kami kepada Wajah Kristus yang Bangkit Mulia, Mempelai-Mu, dengan segala khazanah kekayaan dan kegembiraan-Nya : ”Dulcis Iesus memoria, dans vera cordis gaudia !”, Manislah kenangan Yesus, pemberi kegembiraan hati yang sejati : memang manislah mengenang Yesus, sebab Dialah sumber kegembiraan hati yang sejati. Sesuai dengan Tahun Paulus dan Tahun Kaum Muda 2009 kamipun bertekad mengikuti jejak-ulah pertobatan Santo Paulus yang dijumpai Tuhan pada perjalanannya menuju kota Damsyik dan menerapkan spiritualitasnya : ” Bagiku hidup itu Kristus, dan mati itu keuntungan !” (Flp 1 : 21). Maka dengan roh ulah – pengosongan diri Santa Lidwina serta semangat ulah-pertobatan Santo Paulus dalam perziarahan kami, Umat Gereja Stasi Mandiri Santa Lidwina di Bedog bertekat untuk tetap ambil bagian dalam mewartakan Kristus kepada dunia : Dia itulah Kristus Penebus ” yang sama kemarin, sekarang dan selama-lamanya” (Ibr 13 : 8 ) dengan ditandai sengkalan (kronogram) seperti di bawah ini :
Suryasengkala: Kusuma (9) Muluk (0) Nyuwarga (0) Manembah (2); 2009 AD (Anno Domini). Artinya : Sri Kusuma (Wanita Mulia) Naik (ke) Surga (untuk) Bersembah
Candrasengkala: Manembah (2) Dadya (4) Trusthaning (9) Gusti (1): 1942 AJ (Anno Javanico). Artinya : Bersembah Menjadikan Kegembiraan Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Bratakesawa, R. (1980 ).Keterangan Candrasengkala. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Murni, E. (1979). Santa Lidwina Dewi Dukacita. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Yohanes Paulus II, Paus. ( 1979 ). Redemptoris Hominis. Jakarta: KWI
_________________. (2007 ). Novo Millenio Ineunte. Jakarta: